ISIS rayakan kemenangan Donald Trump, alasannya...

id Presiden AS
ISIS rayakan kemenangan Donald Trump, alasannya...
Presiden Amerika Serikat terpilih Donald Trump. (REUTERS/Mike Segar) (1)
Jakarta (ANTARA News) - ISIS merayakan kemenangan mengejutkan presiden terpilih Donald Trump karena berharap kemenangan ini akan mengantarkan kepada "perang saudara" di Amerika Serikat, tulis laman USA Today mengutip sebuah jejaring media militan ekstremis itu yang dilaporkan oleh SITE Intelligence Group yang berbasis di AS.

"Bergembiralah, berkat Allah, dan temukan kabar menggembirakan tentang kehancuran segera Amerika di tangan Trump," kata jejaring media Al-Minbar yang disebut berafiliasi kepada ISIS.

"Kemenangan Trump dalam Pemilu Presiden AS akan menciptakan permusuhan dari kaum muslim terhadap Amerika sebagai akibat dari langkah-langkahnya yang sembrono yang mengungkap kebencian yang terbuka dan tersembunyi terhadap kaum muslim," tulis Al-Minbar.

Nashir Political Service, sebuah outlet media yang mendukung ISIS dan kaum jihadis lainnya menyatakan mereka berharap kemenangan Trump akhirnya membangkrutkan perekonomian AS akibat kebijakan-kebijakan anti muslimnya, lapor SITE dalam laman USA Today.

Trump pernah mengatakan bahwa dia akan memberi waktu selama 30 hari setelah dia dilantik kepada jenderal-jenderalnya untuk mengungkapkan strategi mengalahkan ISIS yang saat ini menguasai beberapa bagian Irak dan Suriah.

"Saya akan bom sampai kotoran mereka keluar," kata Trump tahun lalu.

Sementara itu, masih menurut SITE, kelompok Taliban Afghanistan mendesak Trump untuk menarik pasukan AS dari Afghanistan dan tidak mengejar kepentingan Amerika dengan mengorbankan negara lain.

Direktur SITE Rita Katz melaporkan bahwa para pendukung supremasi kulit putih menyebut kemenangan Trump sebagai "kemenangan untuk nasionalisme", sebaliknya para simpatisan Alqaeda dan ISIS meyakini kemenangan Trump akan membeberkan kebencian Amerika terhadap muslim yang akhirnya turut mengantar kepada kejatuhan Barat seperti Brexit (keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada referendum Juni 2016).

Editor: Jafar M Sidik

(*)

Editor: Awaludin

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga