Minggu, 24 September 2017

Kopertis Memotivasi Mahasiswa STIA-STTL Mataram Entaskan Kemiskinan

id STIA Mataram
Kopertis Memotivasi Mahasiswa STIA-STTL Mataram Entaskan Kemiskinan
Koordinator Kopertis Wilayah VIII Denpasar Prof DR I Nengah Dasi Astawa, M.Si (berdiri baju hitam), foto bersama dengan Civitas Akademika STIA-STTL Mataram. (Foto ANTARA NTB/ist)
"Apa yang tidak ada di NTB yang sudah diciptakan Tuhan. Kalau merasa kerdil, lalu mau hidup di mana"
Mataram 11/9 (Antara) - Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VIII Denpasar mengadakan kuliah umum dalam rangka memotivasi mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi dan Sekolah Tinggi Teknik Linkungan Mataram, Nusa Tenggara Barat untuk mendukung program pengentasan kemiskinan.

Kuliah umum dengan tema "Strategi membangun generasi muda unggul, berdaya saing dan mandiri" diberikan oleh Koordinator Kopertis Wilayah VIII Denpasar Prof DR I Nengah Dasi Astawa, M.Si, di gedung Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA), dan Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) Mataram, Minggu.

Astawa menjelaskan tujuan memberikan motivasi melalui kuliah umum karena mahasiswa merupakan anak-anak muda aset bangsa yang tidak boleh tamak dan kehilangan arah sehingga tidak mampu memanfaatkan sumber daya alam untuk memajukan ekonomi daerahnya.

"NTB ini memiliki 54 perguruan tinggi, punya sumber daya alam yang luar biasa. Apalagi sedang di bangun Mandalika yang pesonanya tidak ada yang mengalahkan di dunia. Jadi gak masuk akal kalau miskin," katanya.

Ia membandingkan Singapura yang luasnya seperenam dari Pulau Lombok, namun pendapatannya bisa mencapai 16 kali lipat dibanding Pulau Lombok yang hanya sekitar 3.500 USD. Sehingga tidak heran rakyat negara tetangga Indonesia itu sejahtera, meskipun tak memiliki sumber daya alam.

Sementara NTB memiliki sumber daya alam, mulai dari sektor pertanian, kelautan dan perikanan, serta kehutanan. Belum lagi sektor pariwisata, perdagangan dan jasa yang sudah cukup berkembang.

Semestinya, kata Astawa, rakyat Indonesia, termasuk di NTB, malu dengan keberhasilan rakyat Singapura, yang tidak memiliki hutan, ladang dan sawah, namun mampu menciptakan kesejahteraan.

"Apa yang tidak ada di NTB yang sudah diciptakan Tuhan. Kalau merasa kerdil, lalu mau hidup di mana," ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa peserta kuliah umum.

Untuk itu, ia mengajak mahasiswa STIA Mataram dan STTL Mataram untuk berani tampil dalam mengentaskan kemiskinan di daerah dengan cara menghilangkan rasa malas. Pasalnya, sikap malas adalah pangkal dari kebodohan yang pada akhirnya menciptakan kemiskinan.

Mahasiswa juga harus memiliki kemauan untuk melakukan sebuah perubahan menuju arah yang lebih baik dan berani memulai sesuatu dengan tulus dan ikhlas.

Selain itu, berani berkarya dengan menghilangkan rasa malas dan percaya diri bahwa mampu dan memiliki ide yang kuat untuk memberikan yang terbaik bagi diri sendiri dan bermanfaat bagi orang lain.

Dengan empat cara tersebut, menurut Astawa, para pemuda di NTB, akan mampu memanfaatkan potensi-potensi di daerahnya untuk dijadikan sebagai ladang berwirausaha. Sehingga tidak selalu mengandalkan profesi pegawai negeri sipil sebagai pilihan utama.

"Jadilah pemuda yang dikagumi di komunitas. Jangan rendah diri, tapi jadilah pemuda berilmu yang rendah hati," katanya mengajak para mahasiswa STIA Mataram dan STTL Mataram.

Ketua Yayasan Pendidikan Kota Mataram (Yapma) Hidayaturrahman, ST, MT, mengatakan kuliah umum yang diberikan oleh Kopertis Wilayah VIII Denpasar merupakan suatu kebanggan yang patut disyukuri karena bisa menambah wawasan mahasiswa, terutama berkaitan dengan motivasi diri.

Yapma yang menaungi STIA Mataram dan STTL Mataram akan terus berupaya memberikan pencerahan kepada mahasiswa sehingga lulusannya memiliki kompetensi, kreativitas, inovasi dan produktif dalam memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah dan bangsa. (*)

Editor: Awaludin

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga