Jakarta (ANTARA) - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Cut Putri Arianie menjelaskan delapan langkah pola hidup sehat yang dapat diterapkan oleh masyarakat untuk mencegah terjadinya penyakit ginjal.

Cut dalam keterangannya mengenai Hari Ginjal Sedunia di Kementerian Kesehatan Jakarta, Kamis, menjelaskan faktor risiko yang sangat mempengaruhi penyakit ginjal adalah obesitas, hipertensi, dan diabetes.

Dia menegaskan bahwa faktor risiko tersebut sangat bisa dicegah dengan cara menerapkan pola hidup sehat. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan aktivitas fisik secara teratur. Aktivitas fisik selama 150 menit dalam seminggu atau 30 menit setiap hari bertujuan untuk mencegah terjadinya obesitas.

Kedua, masyarakat dianjurkan makan makanan yang sehat dengan menghindari konsumsi gula, garam, dan lemak secara berlebihan.

Mengonsumsi gula terlalu banyak bisa menyebabkan diabetes, konsumsi garam secara berlebih dapat memicu hipertensi.

Ketiga, kontrol tekanan darah secara rutin untuk mengetahui apakah menderita hipertensi atau tidak. Selain itu yang keempat, juga mengecek kadar gula darah secara rutin untuk mengetahui apakah menderita diabetes atau tidak.

Kelima, monitor berat badan secara berkala dan pertahankan berat badan normal sesuai indeks massa tubuh agar terhindar dari obesitas.

Keenam, minum air putih minimal dua liter per hari agar tidak memperberat kerja ginjal.

Ketujuh, tidak mengonsumsi obat-obatan yang tidak dianjurkan yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal, serta kedelapan tidak merokok.

"Intinya adalah kalau kita mau mencegah penyakit tidak menular dan penyakit menular yang penting adalah menjaga imunitas tubuh. Kuncinya pola hidup sehat harus dilakukan untuk mencegah tidak hanya penyakit tidak menular tapi juga penyakit menular," kata dia.

Penyakit ginjal adalah kelainan yang mengenai organ ginjal yang timbul akibat berbagai faktor seperti infeksi, tumor, kelainan bawaan, penyakit metabolik atau degeneratif dan lain-lain. Penyakit ginjal kronis biasanya timbul secara perlahan dan sifatnya menahun.

Penyakit ginjal kronis tidak ditemukan gejala yang khas pada awalnya, sehingga penyakit ini sering terlambat diketahui. Tanda dan gejala yang timbul karena penyakit ginjal sangat umum dan dapat ditemukan pada penyakit lain seperti tekanan darah tinggi, perubahan frekuensi buang air kecil dalam sehari, adanya darah dalam urin, mual dan muntah, serta bengkak terutama pada kaki dan pergelangan kaki.

Data Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2018 menyebutkan prevalensi gagal ginjal kronis pada penduduk usia di atas 15 tahun sebanyak 0,38 persen atau 739.208 jiwa dengan prevalensi tertinggi di Kalimantan Utara 0,64 persen dan terendah di Sulawesi Barat 0,18 persen.

Berdasarkan data Jaminan Kesehatan Nasional tahun 2019, jumlah total pembiayaan untuk penyakit katastropik mencapai Rp20,27 triliun atau 21,99 persen dari total biaya pelayanan kesehatan tingkat lanjut yang mencapai Rp92,187 triliun.

Pembiayaan JKN untuk gagal ginjal tahun 2019 mencapai Rp2,321 triliun dengan jumlah kasus penyakit gagal ginjal sebanyak 1,76 juta.
 

Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2024