Mataram (ANTARA) - Aksi Cepat Tanggap (ACT) Cabang Nusa Tenggara Barat bekerjasama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) NTB melakukan penyemprotan disinfektan di masjid-masjid untuk mencegah penyebaran virus corona penyebab COVID-19..

Kepala ACT Cabang NTB, Lalu Muhammad Alfian, di Mataram, Kamis menjelaskan, masjid menjadi sasaran penyemprotan disinfektan karena keinginan masyarakat melaksanakan ibadah masih tinggi, namun pemahaman mereka terkait potensi penyebaran COVID-19 relatif kurang.

"Sudah 31 titik disemprot disinfektan. Sebagian besar masjid di Kota Mataram, dan Kabupaten Lombok Barat. Ada juga gedung sekolah dan kantor," kata Alfian didampingi Komandan Satuan Tugas (Satgas) Corona Crisis Center ACT-MRI NTB, Romi Saefudin.

Ia mengatakan upaya penyemprotan disinfektan di masjid-masjid juga disertai dengan penyuluhan kepada aparat lingkungan, pengurus masjid, dan pemuda tentang cara membuat disinfektan serta bagaimana penyemprotan yang efektif dan efisien.

Upaya tersebut bertujuan untuk menciptakan satgas mandiri dari unsur masyarakat sehingga tidak terlalu bergantung pada orang lain jika membutuhkan disinfektan dan penyemprotan.

"Target kami juga bisa melatih masyarakat mandiri melakukan penyemprotan dan tidak bergantung pada orang. Bahan untuk membuat disinfektan relatif mudah diperoleh dan harganya terjangkau," ujarnya.

Kepala Bagian Kerja Sama ACT NTB, Juaini Pratama menambahkan, pihaknya terus memperluas wilayah penyemprotan disinfektan hingga ke seluruh kabupaten/kota. Upaya tersebut sudah dikoordinasikan dengan Koordinator Daerah Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) ACT se-NTB.

Selain di masjid, kata dia, penyemprotan disinfektan juga dilakukan di permukiman penduduk berdasarkan permintaan masyarakat.

"Permintaan penyemprotan disinfektan dari masyarakat relatif tinggi. Kami bisa melayaninya dengan konsekuensi masyarakat yang dibantu harus mau membentuk satgas mandiri," ucap Juaini.
 

Pewarta : Awaludin
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2024