Mataram, 19/12 (ANTARA) - Sebanyak 358 desa di Nusa Tenggara Barat, hingga saat ini belum memiliki Pos Kesehatan Desa, yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mendapatkan perawatan medis.
"Dari 910 desa yang kami data, sebanyak 358 desa (39,3) persen belum memiliki Pos Kesehatan Desa (Poskesdes)," kata Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat, Khaerul Anwar, di Mataram, Minggu.
Ia mengaku, seluruh desa yang belum memiliki Poskesdes menjadi target pengembangan pada 2011, sebagai salah satu upaya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Dana pembangunan Poskesdes pada 2011 bersumber dari APBN, namun diharapkan juga ada bantuan dari luar negeri dan pihak swasta seperti pada tahun sebelumnya.
Pada 2010, sebut Khaerul, Poskesdes yang sudah ada di 552 desa dibangun dengan sumber dana dari APBN atau bantuan luar negeri, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dan dari dana "corporate social responsibility" (CSR) perusahaan yang ada di NTB, seperti PT Newmont Nusa Tenggara, Bank Mandiri dan PT Asuransi Kesehatan (Askes).
"Tahun 2011, ada bantuan dari Newmont untuk pembangunan Poskesdes, namun saya belum tahu pasti berapa jumlahnya," ujarnya.
Khaerul juga menyebutkan, dari 910 desa yang terdata, sebanyak 888 desa sudah menjadi desa siaga yang terdiri dari desa siaga aktif sebanyak 517 desa (58,2) persen.
Desa Siaga aktif merupakan satu kondisi desa yang mempunyai tingkat partisipasi aktif semua komponen masyarakat mulai dari kader, tokoh agama, tokoh masyarakat, aparat desa dan petugas kesehatan untuk bersama-sama mengatasi masalah kesehatan secara mandiri.
Menurut dia, Desa Siaga memiliki peran penting dalam mewujudkan program Pemerintah Provinsi NTB di bawah kepemimpinan Gubernur TGH. M. Zainul Majdi dan Wakil Gubernur H. Badrul Munir, yakni menekan angka kematian ibu dan bayi menuju nol (Akino) dan program kesehatan lainnya seperti menekan angka kasus gizi buruk.
Desa Siaga sebagai wadah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan merupakan desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumberdaya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan (bencana dan kegawatdaruratan kesehatan) secara mandiri.
"Desa Siaga ini terbukti berperan dalam menekan angka kematian ibu dan bayi yang Januari-September 2010 mencapai mencapai 2,1 persen atau menurun dibandingkan 2009 sebesar 87,5 persen," sebutnya.
Khaerul mengaku pihaknya telah melakukan langkah-langkah dalam rangka mengoptimalkan keberadaan Desa Siaga sebagai wadah pemberdayaan masyarakat desa/kelurahan dalam bidang kesehatan seperti pengembangan tim petugas dalam rangka mempersiapkan petugas kesehatan yang ada di Puskesmas dan pengembangan tim masyarakat dalam rangka mempersiapkan para petugas dan masyarakat agar mampu bekerjasama dalam satu tim.(*)