Mataram,  (Antara) - Masyarakat Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyerbu pedagang janur kuning sebagai bahan membuat ketupat dan "bantal" atau jajanan ketan pada H-1 Lebaran "Topat" atau Ketupat di Mataram, Minggu.

Lebaran Topat akan dirayakan masyarakat Senin (4/8) setelah seminggu Hari Raya Idul Fitri.

Dari pantauan di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Dasan Agung, Ampenan, Kebon Roek, Cakranegara, masyarakat sejak pagi langsung menyerbu para pedagang yang datang dari luar kota Mataram seperti Gunungsari, Kekait, Medas dan Wadon Kabupaten Lombok Barat.

Masyarakat rata-rata membeli janur kuning 40 biji hingga 50 biji dengan harga Rp2.000 per sepuluh biji, namun ada juga yang membeli bahan ketupat yang sudah jadi dengan harga Rp5.000 per 10 biji.

Murjenah (40) salah seorang pedagang janur kuning mengatakan, saat penampahan atau H-1 Lebaran Topat sekarang ini dapat jualan janur kuning hingga Rp150.000 sementara dihari biasa hanya Rp30.000 dan ini merupakah rizki dari Allah yang harus disyukuri.

Pada hari Lebaran Topat, masyarakat Lombok sehari suntuk makan ketupat, mulai dari pagi hingga malam hari, namun ada juga yang tidak senang ketupat.

Ketupat dan jajan "bantal" yang dibuat penduduk di samping untuk hidangan di rumah, juga dibawa sebagai bekal untuk wisata ke lokasi wisata terutama di okyek wisata Batu Layar di kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat, 12 kilometer Utara Mataram.

Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata NTB, M Nasir mengatakan, tradisi Lebaran Topat atau Ketupat yang dirayakan masyarakat Lombok kini dijadikan kalender pariwisata di daerah ini. .

"Sebab tradisi unik tersebut hanya dilakukan di Lombok, sehingga perlu dilestarikan, untuk menarik wisatawan berkunjung ke NTB," katanya.

Untuk itu, dalam perayaan Lebaran Topat yang akan dilakukan pada Senin (4/8) pihaknya akan mengundang sejumlah wisatawan, baik asing maupun domestik yang kebetulan berlibur ke Lombok.

Masyarakat Lombok merayakan Lebaran Topat setelah seminggu merayakan Hari Raya idul Fitri dan kemudian diiringi dengan puasa sunah Syawal.

"Pada hari itu masyarakat tua dan muda keluar rumah untuk pergi bersantai ke berbagai obyek wisata yang ada di daerah ini," ucapnya.

"Mereka memilih Batu Layar, karena di samping dapat bersantai di Pantai Batu Layar sekaligus berziarah di makam Batu Layar, sebuah makam yang dikeramatkan warga," katanya.

Pewarta : Nirkomala
Editor : Yanes
Copyright © ANTARA 2026