Chicago (ANTARA) - Harga emas menguat pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), menghentikan kerugian selama dua hari berturut-turut dan bangkit dari level terlemahnya tahun ini, karena dolar AS melemah setelah data menunjukkan kenaikan dalam klaim pengangguran AS pekan lalu.
 

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi Comex New York Exchange, terangkat 16 dolar AS atau 0,88 persen menjadi ditutup pada 1.834,60 dolar AS per ounce, setelah diperdagangkan menyentuh level tertinggi sesi di 1.839,40 dolar AS dan terendah di 1.815,40 dolar AS.

Emas berjangka tergelincir 1,40 dolar AS atau 0,08 persen menjadi 1.818,60 dolar AS pada Rabu (8/3/2023), setelah anjlok 34,60 dolar AS atau 1,87 persen menjadi 1.820,00 dolar AS pada Selasa (7/3/2023), dan tidak berubah di 1.854,60 dolar AS pada Senin (6/3/2023).

Dolar AS jatuh pada perdagangan Kamis (9/3/2023) setelah data menunjukkan kenaikan klaim pengangguran AS pekan lalu dengan indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,34 persen menjadi 105,3021.

Greenback yang lebih lemah membuat harga emas dalam denominasi dolar AS menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Kamis (9/3/2023) bahwa permohonan untuk klaim pengangguran untuk pekan yang berakhir 4 Maret naik 21.000 menjadi 211.000 dari 190.000 pada minggu sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya dalam delapan minggu klaim datang di atas 200.000, yang selanjutnya mendukung emas.

Baca juga: Harga emas anjlok tertekan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed
Baca juga: Emas ditutup tak berubah menjelang kesaksian Powell

Fokus investor sekarang beralih ke data penggajian non-pertanian yang akan dirilis pada Jumat waktu setempat, dengan lebih banyak tanda-tanda kekuatan pasar tenaga kerja memberi Fed lebih banyak dorongan untuk menaikkan suku bunga.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Mei naik 1,40 sen atau 0,07 persen, menjadi ditutup pada 20,165 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman April terdongkrak 8,70 dolar AS atau 0,92 persen, menjadi menetap pada 949,30 dolar AS per ounce.



 


Pewarta : Apep Suhendar
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2024