BBIL LIPI teliti cara memproduksi benih lobster
Jumat, 13 April 2018 5:50 WIB
Dokumwn - Nelayan menujukan lobster hasil tangkapannya seusai melaut di Pelelangan Ikan Pamayang, Kampung Cipatujah, Tasikmalaya, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/ss/Spt/14)
Lombok Utara (Antaranews NTB) - Balai Bio Industri Laut, Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, meneliti cara memproduksi benih lobster untuk konservasi dan budi daya pembesaran.
Kepala Balai Bio Industri Laut Hendra Munandar, di Lombok Utara, Kamis (12/4), mengatakan penelitian penting dilakukan karena hingga saat ini belum ada ilmuwan di Indonesia, yang berhasil menemukan teknologi cara menghasilkan benih lobster.
"Di dunia ada beberapa negara yang sudah berhasil, salah satunya Australia, itu pun butuh waktu hingga 15 tahun," katanya kepada peserta media tour eksplorasi hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Menurut dia, potensi pasar benih lobster sangat tinggi dengan harga jual yang relatif mahal, yakni mencapai Rp25 ribu per ekor meskipun ukuran benih lobster sangat kecil dan menyerupai air.
Benih lobster yang selama ini dibeli dari nelayan di Indonesia, diekspor ke beberapa negara, seperti Singapura dan Vietnam. Harga jual di pasar ekspor mencapai 15 dolar Amerika Serikat per ekor.
Harga jual yang relatif mahal di luar negeri, kata Hendra, menjadi pemicu penangkapan benih lobster di perairan laut secara massif, meskipun sudah ada larangan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
"Aksi penyelundupan benih lobster masih sering terjadi dengan nilai miliaran rupiah. Terbukti dari upaya penggagalan yang dilakukan Polda NTB," ujar Hendra sambil menunjukkan beberapa berita media daring tentang keberhasilan polisi menggagalkan penyelundupan biota laut tersebut lewat bandara.
Lebih lanjut, ia menambahkan lobster yang sudah siap konsumsi memiliki kandungan protein yang tinggi, sehingga tidak heran harganya relatif mahal.
Namun, tidak banyak orang yang mau membudidayakan dengan alasan teknologi yang rumit dan modal relatif besar.
Untuk itu, BBIL perlu melakukan penelitian mulai dari proses pembesaran dan teknologi pembenihan benih lobster. Hasil dari penelitian nantinya disebarluaskan kepada masyarakat dan dunia usaha yang berminat budi daya lobster.
"Kami mulai melakukan penelitian proses pembesaran sejak 2015, tapi kalau teknik pembenihan lobster mulai fokusnya sejak 2017," ujar pria asal Majalengka ini.
Hendra menegaskan pihaknya akan tekun dan bekerja keras dalam meneliti lobster, meskipun anggaran dan sumber daya manusia peneliti yang relatif terbatas. Penelitian difokuskan pada teknik pembenihan, penanganan penyakit dan penyediaan pakan buatan.
"Proses penelitian tidak bisa instan. Australia saja butuh 15 tahun penelitian baru berhasil. Tim peneliti saja sampai jantungnya deg-degan ketika melihat benih lobster di laboratorium, antara mati atau hidup," katanya dengan nada bercanda. (*)
Kepala Balai Bio Industri Laut Hendra Munandar, di Lombok Utara, Kamis (12/4), mengatakan penelitian penting dilakukan karena hingga saat ini belum ada ilmuwan di Indonesia, yang berhasil menemukan teknologi cara menghasilkan benih lobster.
"Di dunia ada beberapa negara yang sudah berhasil, salah satunya Australia, itu pun butuh waktu hingga 15 tahun," katanya kepada peserta media tour eksplorasi hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Menurut dia, potensi pasar benih lobster sangat tinggi dengan harga jual yang relatif mahal, yakni mencapai Rp25 ribu per ekor meskipun ukuran benih lobster sangat kecil dan menyerupai air.
Benih lobster yang selama ini dibeli dari nelayan di Indonesia, diekspor ke beberapa negara, seperti Singapura dan Vietnam. Harga jual di pasar ekspor mencapai 15 dolar Amerika Serikat per ekor.
Harga jual yang relatif mahal di luar negeri, kata Hendra, menjadi pemicu penangkapan benih lobster di perairan laut secara massif, meskipun sudah ada larangan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
"Aksi penyelundupan benih lobster masih sering terjadi dengan nilai miliaran rupiah. Terbukti dari upaya penggagalan yang dilakukan Polda NTB," ujar Hendra sambil menunjukkan beberapa berita media daring tentang keberhasilan polisi menggagalkan penyelundupan biota laut tersebut lewat bandara.
Lebih lanjut, ia menambahkan lobster yang sudah siap konsumsi memiliki kandungan protein yang tinggi, sehingga tidak heran harganya relatif mahal.
Namun, tidak banyak orang yang mau membudidayakan dengan alasan teknologi yang rumit dan modal relatif besar.
Untuk itu, BBIL perlu melakukan penelitian mulai dari proses pembesaran dan teknologi pembenihan benih lobster. Hasil dari penelitian nantinya disebarluaskan kepada masyarakat dan dunia usaha yang berminat budi daya lobster.
"Kami mulai melakukan penelitian proses pembesaran sejak 2015, tapi kalau teknik pembenihan lobster mulai fokusnya sejak 2017," ujar pria asal Majalengka ini.
Hendra menegaskan pihaknya akan tekun dan bekerja keras dalam meneliti lobster, meskipun anggaran dan sumber daya manusia peneliti yang relatif terbatas. Penelitian difokuskan pada teknik pembenihan, penanganan penyakit dan penyediaan pakan buatan.
"Proses penelitian tidak bisa instan. Australia saja butuh 15 tahun penelitian baru berhasil. Tim peneliti saja sampai jantungnya deg-degan ketika melihat benih lobster di laboratorium, antara mati atau hidup," katanya dengan nada bercanda. (*)
Pewarta : -
Editor : Awaludin
Copyright © ANTARA 2026
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Yayasan Puri Kauhan Ubud umumkan ide karya terbaik kompetisi seni pertunjukan dengan inovasi teknologi
05 September 2025 5:34 WIB
Konferprov PWI Bali 2025 secara aklamasi memilih Dira Arsana sebagai Ketua PWI periode 2025-2029
31 May 2025 7:19 WIB
Sinergi PKT BISA dongkrak produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani Magetan
20 May 2025 18:55 WIB
Pemilik tanah Gnyadnya minta keadilan peralihan tanahnya dipecah jadi 26 sertifikat
03 February 2025 20:22 WIB, 2025
Demplot Pupuk Kaltim di Jombang, hasil padi petani capai 9,2 ton per hektare
04 September 2024 15:31 WIB, 2024
Suara legislator, Reni Astuti sarankan ada peta banjir digital di Surabaya
27 February 2024 8:04 WIB, 2024