Rusia protes keras latihan militer AS dan Jepang
Jumat, 9 Agustus 2024 4:52 WIB
Foto arsip - Bendera nasional Rusia di Kremlin, Moskow, Rusia (6/1/2023). (ANTARA/Xinhua/Alexander Zemlianichenko Jr/aa)
Moskow (ANTARA) - Kementerian Luar Negeri Rusia pada Rabu menyampaikan protes keras atas latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Jepang, Orient Shield yang dilaksanakan dekat perbatasan Rusia pada 18-26 Juli.
Mereka menyampaikan protes tersebut ke Kedutaan Besar Jepang di Moskow, dengan menekankan “tidak dapat diterimanya aktivitas militer provokatif semacam itu,” yang dipandang sebagai potensi ancaman terhadap keamanan.
Rusia mengatakan telah mengeluarkan peringatan mengenai penerapan tindakan pencegahan yang memadai untuk memperkuat kemampuan pertahanan dan melindungi kedaulatan negaranya. Sementara itu dalam pernyataan terpisah, juru bicara Kemenlu Rusia Maria Zakharova mengkritik rencana penyelenggaraan pertemuan puncak Jepang-Asia Tengah dengan partisipasi Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida.
Zakharova berpendapat bahwa Tokyo sedang berupaya menanam akar di Asia Tengah dengan tujuan melemahkan hubungan antara negara-negara regional dengan Rusia dan “menarik” mereka ke arah ideologi Barat tentang “tatanan berbasis aturan,” yang bernuansa “anti-Rusia dan anti- China."
Dia mengingatkan negara-negara Asia Tengah tentang pengalaman kerja sama Rusia dengan Jepang. Pada awalnya Tokyo menawarkan “bantuan pembangunan” untuk mengejar kepentingan perusahaannya sendiri, mencoba memastikan akses mereka tanpa hambatan ke pasar negara berkembang, sehingga membuat penerimanya bergantung pada modal dan teknologi eksternal.
Arah prioritas program kerja sama baru yang diumumkan di media hanya menegaskan bahwa pihak Jepang mengejar tujuan politik dengan menerapkan agenda energi dan iklim Barat, kata Zakharova.
Baca juga: Pernyataan pembicaraan damai Ukraina sejalan dengan Rusia
Baca juga: Pemerintah Ukraina nyatakan siap berunding dengan Rusia
“Kami yakin bahwa mitra-mitra kami di Asia Tengah, dengan kebijaksanaan mereka, akan mampu membedakan pendekatan-pendekatan yang mendukung kerja sama yang saling menguntungkan dengan rencana untuk menjadikan negara mereka sebagai pelengkap neokolonial dari kubu Barat.
“Kami berharap kehancuran dari prospek tersebut dan dampak serius dari hilangnya hubungan penuh dengan Rusia cukup jelas bagi mereka,” tambahnya.
Sumber: Anadolu
Mereka menyampaikan protes tersebut ke Kedutaan Besar Jepang di Moskow, dengan menekankan “tidak dapat diterimanya aktivitas militer provokatif semacam itu,” yang dipandang sebagai potensi ancaman terhadap keamanan.
Rusia mengatakan telah mengeluarkan peringatan mengenai penerapan tindakan pencegahan yang memadai untuk memperkuat kemampuan pertahanan dan melindungi kedaulatan negaranya. Sementara itu dalam pernyataan terpisah, juru bicara Kemenlu Rusia Maria Zakharova mengkritik rencana penyelenggaraan pertemuan puncak Jepang-Asia Tengah dengan partisipasi Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida.
Zakharova berpendapat bahwa Tokyo sedang berupaya menanam akar di Asia Tengah dengan tujuan melemahkan hubungan antara negara-negara regional dengan Rusia dan “menarik” mereka ke arah ideologi Barat tentang “tatanan berbasis aturan,” yang bernuansa “anti-Rusia dan anti- China."
Dia mengingatkan negara-negara Asia Tengah tentang pengalaman kerja sama Rusia dengan Jepang. Pada awalnya Tokyo menawarkan “bantuan pembangunan” untuk mengejar kepentingan perusahaannya sendiri, mencoba memastikan akses mereka tanpa hambatan ke pasar negara berkembang, sehingga membuat penerimanya bergantung pada modal dan teknologi eksternal.
Arah prioritas program kerja sama baru yang diumumkan di media hanya menegaskan bahwa pihak Jepang mengejar tujuan politik dengan menerapkan agenda energi dan iklim Barat, kata Zakharova.
Baca juga: Pernyataan pembicaraan damai Ukraina sejalan dengan Rusia
Baca juga: Pemerintah Ukraina nyatakan siap berunding dengan Rusia
“Kami yakin bahwa mitra-mitra kami di Asia Tengah, dengan kebijaksanaan mereka, akan mampu membedakan pendekatan-pendekatan yang mendukung kerja sama yang saling menguntungkan dengan rencana untuk menjadikan negara mereka sebagai pelengkap neokolonial dari kubu Barat.
“Kami berharap kehancuran dari prospek tersebut dan dampak serius dari hilangnya hubungan penuh dengan Rusia cukup jelas bagi mereka,” tambahnya.
Sumber: Anadolu
Pewarta : Yoanita Hastryka Djohan
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menteri ESDM mendampingi Presiden Prabowo memperkuat diplomasi energi di AS
19 February 2026 6:07 WIB
Wang Yi: Dialog lebih baik daripada konfrontasi, jelang pertemuan Xi-Trump
15 February 2026 12:01 WIB
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Trump apresiasi Indonesia kirim personel menjaga gencatan senjata di Jalur Gaza
20 February 2026 8:38 WIB
Presiden Prabowo optimistis rencana besar Dewan Perdamaian wujudkan damai di Gaza
20 February 2026 5:44 WIB