Mataram, 2/6 (ANTARA) - Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat mencatat nilai tukar petani di daerah ini pada Mei 2010 mencapai 95,80 persen, turun 0,90 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

   Kepala BPS NTB Soegarenda, di Mataram, Rabu, mengatakan penurunan ini disebabkan turunnya indeks harga yang diterima petani sebesar 0,76 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani naik 0,14 persen.

   "Penurunan NTP umumnya disebabkan turunnya harga hasil produksi petani terutama petani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat, peternak dan hasil nelayan," katanya.

   Ia mengatakan NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan.

   NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

   "Hasil survei harga-harga barang di pedesaan NTP di NTB pada Mei 2010 masih di bawah 100 persen. Ini berarti petani mengalami defisit atau penurunan daya belinya karena kenaikan harga produksi relatif lebih dibandingkan dengan kenaikan harga input produksi dan kebutuhan konsumsi rumah tangganya," kata Soegarenda.

   Ia menyebutkan pada Mei 2010, NTP pada subsektor tanaman padi dan palawija turun 1,24 persen. Penurunan itu terjadi karena turunnya harga gabah kering giling sebesar 2,50 persen.

   Subsektor perkebunan turun 0,47 persen yang disebabkan turunnya harga kelapa, sedangkan indeks yang dibayar petani lebih tinggi sebagai pengaruh dari peningkatan indeks konsumsi rumah tangga dan BPPBM masing-masing sebesar 0,05 persen dan 0,21 persen.

   Selanjutnya, kata dia, subsektor peternakan turun 0,23 persen yang disebabkan turunnya harga kambing, ayam dan kerbau, subsektor perikanan turun 0,66 persen disebabkan turunnya harga hasil tangkapan ikan besar sebesar 1,08 persen.

   "Untuk subsektor hortikultura turun 0,91 persen karena turunnya harga komoditas sayur-sayuran dan buah-buahan. Di sisi lain pengeluaran petani meningkat karena harga pupuk dan  upah tenaga kerja mengalami kenaikan," katanya.

   Ia mengatakan dari 32 provinsi yang dilaporkan, perubahan NTP Mei terhadap NTP April 2010 relatif beragam, yaitu terjadi kenaikan NTP di 16 provinsi, sedangkan 16 provinsi mengalami penurunan.

   "Kenaikan tertinggi terjadi di Provinsi Bali sebesar 1,08 persen, sedangkan penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Kalimantan Barat dan NTB sebesar 0,90 persen," katanya.(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026