PEMKAB LOBAR OBSERVASI LOKASI BERKEMBANGNYA CHIKUNGUNYA

id

          Lombok Barat,  (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, melakukan observasi terhadap lokasi berkembangnya penyakit chikungunya yang menyebabkan puluhan warga lumpuh sementara.

         Kepala Dinas Kesehatan Lombok Barat Gde Aryana di Lombok Barat (8/7), mengatakan, observasi tersebut sesuai dengan prosedur tetap yang berlaku dan merupakan langkah awal di sebuah lingkungan yang penduduknya diduga terjangkit demam berdarah dan chikungunya.     

    "Setelah melakukan observasi petugas baru melakukan survei untuk mengetahui jenis nyamuk yang berkembang biak," ujarnya.

         Dari hasil survei itu, kata dia, akan diketahui jenis jentik nyamuk yang berkembang. Jika 90 persen jentik nyamuk "menguasai" sebuah lingkungan, maka dinas akan melakukan abatesasi yakni dengan membagikan serbuk abate kepada warga setempat.

         Menurut dia, kasus chikungunya yang menyebabkan puluhan warga terpaksa dirawat inap di puskesmas dan rumah sakit bukan baru pertama kali terjadi di Lombok Barat.

         "Pada awal tahun, penyakit ini juga sempat menyerang warga di Desa Jembatan Kembar, Lembar dan Desa Batu Mulik, Kecamatan Gerung. Kebanyakan penderitanya berasal dari keluarga kurang mampu," kata dia.

         Ia menambahkan curah hujan dengan intensitas sedang dan lebat yang terjadi sejak Januari 2010, sangat mempengaruhi perkembangan penyakit demam berdarah dan chikungunya.

         Khusus untuk chikungunya, menurut Aryana, bukan sebuah penyakit yang terlalu berbahaya. Selain tak berpotensi merenggut jiwa, penderitanya dalam beberapa hari pun akan sembuh dengan sendiri.    

    "Yang perlu diwaspadai adalah jika di sebuah wilayah ditemukan warga yang positif demam berdarah karena penyakit ini bersifat mematikan," katanya.

         Ia mengatakan, langkah terakhir yang ditempuh pemerintah jika kasus chikungunya atau demam berdarah terus mengalami peningkatan dan wilayah yang dinyatakan bebas jentik kurang dari lima persen dari keseluruhannya adalah melakukan "fogging" atau pengasapan.

         Namun, yang terpenting menurut dia adalah masyarakat harus melakukan pembasmian sarang nyamuk dengan menerapkan pola 3M yakni menguras dan menutup penampungan air dan menimbun barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

         "Kita juga rutin melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar cepat tanggap dan segera melaporkan ke puskesmas terdekat jika menemukan kasus yang mewabah di lingkungannya," katanya. (*)




Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar