PBNU menolak tegas kampanye anti-vaksin COVID-19

id Vaksinasi COVID-19,PBNU

PBNU menolak tegas kampanye anti-vaksin COVID-19

Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Ishomuddin. (Foto ANTARA/ Victorianus Sat Pranyoto)

Jakarta (ANTARA) - Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin mengatakan pihaknya menolak tegas kampanye anti-vaksin COVID-19.

Ahmad di lingkungan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, mengatakan program vaksinasi COVID-19 dari pemerintah menggunakan vaksin yang aman.

“Percayalah pemerintah tidak akan mencelakakan rakyatnya. Percayalah vaksin merupakan sesuatu yang aman,” kata Ahmad.

Ia mengatakan vaksinasi COVID-19 merupakan ikhtiar untuk melindungi jiwa agar tetap sehat dan bisa menjalankan kehidupan.

“Oleh karena itu vaksinasi merupakan kewajiban kita semua, agar kita terhindar dari wabah yg melanda ini, yaitu serangan virus COVID-19,” ujarnya.

Vaksin yang digunakan pemerintah telah mendapat sertifikasi halal dari MUI dan izin penggunaan darurat dari BPOM. Dengan begitu, masyarakat dapat mengikuti vaksinasi COVID-19 tanpa takut dan tanpa ragu.

“Kita berusaha meyakinkan seluruh masyarakat untuk melakukan vaksinasi tanpa rasa takut, vaksinasi ini sudah mendapat sertifikasi halal. Kita tidak perlu takut,” ujar dia.
 

Pada Rabu ini, Indonesia memulai program vaksinasi COVID-19. Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menjadi bagian dari kelompok pertama yang diberi vaksin COVID-19, bersama dengan perwakilan dari pejabat negara, tokoh masyarakat, tokoh agama, seniman, tenaga kesehatan di Istana Merdeka.

Ahmad mengikuti vaksinasi pagi ini berbarengan dengan Presiden Jokowi.

Vaksin yang akan disuntikkan pada Rabu ini adalah vaksin dari Sinovac yang telah mendapatkan izin edar darurat (Emergency Use Authorization/EUA) dari BPOM.

Setelah Presiden Jokowi dan jajarannya, esok hari Kamis (14/1), vaksin akan disuntikkan ke kepala daerah dan tenaga kesehatan yang memenuhi syarat seperti berusia 18-59 tahun, tanpa komorbid, dan tak pernah terinfeksi COVID-19.
 

Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar