Mataram, 28/4 (ANTARA) - Universitas Muhammadiyah Mataram, Nusa Tenggara Barat, memproteksi sekitar 12.000 mahasiswanya dari pengaruh organisasi Negara Islam Indonesia dan organisasi radikal lainnya karena bisa merugikan masa depan para mahasiswa.

   "Bukan organisasi Negara Islam Indonesia (NII) saja, tetapi kami juga memproteksi mahasiswa dari pengaruh organisasi sejenis yang keras, brutal dan tidak beradab," kata Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram (UMM) H. Mustamin, H. Idris, di Mataram, Kamis.

Ia dan Pembantu Rektor 3 bidang kemahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) sudah melakukan rapat koordinasi membahas upaya mengantisipasi masuknya pengaruh organisasi NII dan organisasi kemahasiswaan yang tidak resmi.

Upaya itu perlu dilakukan mengingat saat ini beredar kabar bahwa sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi ternama di Pulau Jawa, direkrut menjadi aktivis NII, sehingga harus berurusan dengan aparat kepolisian.

Menurut dia, organisasi yang bisa merugikan masa depan mahasiswa harus dicegah jangan sampai berkembang di lingkungan kampus karena organisasi semacam itu tidak saja merugikan mahasiswa sendiri tetapi akan mencoreng nama baik lembaga kampus sebagai tempat mendidik calon-calon intelektual.

"Organisasi yang diizinkan dikampus ini adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) BEM, DPM dan himpunan mahasiswa jurusan. Kami tidak membolehkan organisasi lain selain organisasi mahasiswa yang saya sebut itu," ujarnya.

Mustamin tidak bisa melarang jika ada mahasiswa yang memang nekat masuk dan aktif menjadi aktivis NII atau organisasi radikal lainnya di luar, namun tidak boleh dikembangkan di lingkungan kampus.

Jika ada mahasiswa yang memang ditemukan menjadi aktivis sebuah organisasi terlarang, kata dia, pihaknya akan berupaya untuk melakukan pendekatan dan pembinaan agar keluar dari organisasi tersebut demi kebaikan mahasiswa itu sendiri.

"Kalau dia tetap menjadi anggota organisasi tertentu yang dilarang pemerintah, meskipun sudah diberikan arahan, itu diluar tanggungjawab kami. Asalkan, paham yang dianutnya jangan di bawa ke kampus," ujarnya.

Upaya untuk mencegah mahasiswa ikut menjadi aktivis organisas terlarang, kata dia, juga sudah dikoordinasikan dengan para dosen Al Islam yang memang khusus memberikan pemahaman tentang Tarji Kemuhammadiyahan. Ajaran itu mengandung ilmu akidah, akhlak, ibadah dan muamalah yang harus dijalankan umat muslim.

Selain melakukan pembinaan di lingkungan kampus, Mustamin juga sangat berharap agar para orang tua selalu memperhatikan prilaku anak-anaknya dan tetap memberikan pembinaan di lingkungan keluarga.

"Upaya mencegah anak-anak dari pengaruh yang tidak baik, termasuk organisasi terlarang tidak bisa dilakukan sendiri oleh pihak kampus dan pemerintah, tapi keluarga sangat berperan penting dalam hal itu," katanya.

Seperti diketahui, kelompok organisasi NII saat ini menjadi incaran aparat kepolisian karena melakukan penculikan dan cuci otak terhadap sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi.

Salah satu mahasiswa asal Bima, NTB, bernama Mahatir Rizki diduga menjadi korban penculikan NII. Dia bersama delapan temannya sempat dikabarkan hilang setelah berangkat ke Jakarta. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026