Dompu, NTB, (ANTARA) - Bupati Dompu H Bambang M Yasin meminta warga di kaki Gunung Tambora tetap tenang meski Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung meningkatkan status Tambora dari waspada level II menjadi siaga level III.
"Meski harus tetap tenang, tidak berarti lengah. Waspadai segala bentuk perubahan yang tidak lazim di sekitar kita," katanya ketika dihubungi melalui telepon, Jumat.
Gunung Tambora (2.851 meter di atas permukaan laut) berada di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu pada sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut dan Kabupaten Bima di bagian lereng sisi selatan hingga barat laut.
Bupati Dompu beserta pejabat daerah mengunjungi Kecamatan Pekat terutama di lima desa yang paling dekat dengan Gunung Tambora.
"Satu hal yang penting, jangan mudah percaya kepada informasi yang tidak jelas dan tidak resmi," katanya.
Kunjungan para pejabat Kabupaten Dompu itu, selain untuk menyosialisasikan program pemerintah, juga menenangkan masyarakat di kaki Gunung Tambora yang statusnya sudah dinaikkan.
"Kalau ada bencana, masyarakat di kaki Tambora tidak sendiri.Ada pemerintah kabupaten yang tentu akan menghadapi bersama," katanya.
Bupati juga meminta warga untuk tidak mempercayai isu bahwa Tambora akan meletus dalam waktu dekat.
"Saya berharapwarga tetap mempercayai informasi yang disampaikan oleh pemerintah, terkaitkondisi terakhir Gunung Tambora yang pernah meletus pada 1815 dan menelan banyak korban jiwa," katanya.
Sejak dinaikkan statusnya dari waspada (level II) ke status siaga (level III) pada 8 September 2011, Pemerintah Kabupaten Dompu terus mengikuti perkembangan gunung api tersebut.
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang baru dibentuk awal 2011 bahkan sudah berada di lokasi terdekat Tambora.
"Kita juga sedang mempersiapkan jalur evakuasi jika gunung itu benar-benar meletus," katanya.
Bupati mengimbau warga tidak mendekati gunung tersebut pada radius lima kilometer dari titik kawah atau kawasan rawan bencana III.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026