Mataram, 11/12 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengagendakan panet sebanyak 272.082 ekor pedet (anak sapi), yang dijadwalkan, Rabu (12/12) di kawasan pengembangan sapi di Banyumulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat.
  "Pak Gubernur yang akan memimpin panen pedet hasil Inseminasi Buatan itu," kata Kepala Dinas Peternakan  dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB Hery Erpan Rayes, yang didampingi Kepala Balai Inseminasi Buatan (IB) Banyumulek A W Nasrudin, di Mataram, Selasa.
  Erpan mengatakan, pedet hasil IB dan sebagian ternak bibit dan ternak potong akan dikumpulkan di Banyumulek saat panen pedet itu digelar.
  Momentum panen pedet itu juga akan diwarnai dengan penilaian sapi pejantan, induk, pedet dan sapi bakalan unggul.
  Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk membangkitkan semangat para peternak dengan menampilkan keberhasilan yang telah dicapai selama mengusahakan dan mengembang biakan ternaknya.
  Selain itu, untuk menginformasikan kepada masyarakat luas tentang potensi dan upaya yang telah dilakukan dalam membangun peternakan di wilayah NTB, dan memberi peluang kepada dunia usaha agar berinvestasi lebih baik dalam bidang peternakan, sekaligus sebagai upaya membuka pintu kesempatan bekerja.
  "Diharapkan peternak semakin giat dan investor makin mengembangkan usahanya di bidang peternakan," ujar Erpan.
  Ia mengakui, panen pedet beserta rangkaian kegiatannya itu merupakan bagian dari program NTB Bumi Sejuta Sapi (NTB-BSS) sebagai salah satu program unggulan Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, dan Wakil Gubernur NTB H Badrul Munir.
  Terkait pengembangan program NTB-BSS itu Pemprov NTB menjalin kerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi, dalam bentuk penguatan Sistem Inovasi Daerah (SIDa) berbasis kawasan fokus dalam bidang peternakan.
  Implementasinya yakni transfer teknologi IB Sexing, pengolahan daging, pembuatan pakan (makanan ternak) awetan, pembuatan pakan silase dan database peternakan.
  Program SIDa sebagai bagian dari program pendukung Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) itu, diluncurkan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta, 25 Februari 2012.
  Dalam MP3EI Kementerian Ristek berkewajiban mengembangkan iptek dan SDM sesuai keunggulan lokal, dan NTB berada pada Koridor V yang menekankan pengembangan pariwisata dan ketahanan pangan.
  SIDa merupakan upaya pemberdayaan iptek dan inovasi berdasarkan keunggulan lokal, sebagai salah satu cara untuk mendorong produktifitas masyarakat, sehingga diharapkan akan memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.
  "Program unggulan NTB seperti ternak sapi patut didukung dan terus dikembangkan agar NTB tetap menjadi daerah pendukung swasembada daging nasional hingga masa mendatang," ujar Erpan.

NTB-BSS
  Program NTB-BSS diluncurkan saat HUT ke-50 Pemerintah Provinsi NTB, 17 Desember 2008, diawali dengan populasi ternak sapi sebanyak 546.114 ekor dengan tingkat produksi 7,6 persen pertahun.
  Kedepan produksinya akan terus ditingkatkan hingga menjadi 13 persen pertahun dengan target populasi ternak sapi sebanyak 1,5 juta ekor di tahun 2013.  
  Program BSS merupakan program percepatan yang diawali dari program reguler sebagai pembanding dengan indikasi dan asumsi populasi sapi pada tahun 2008 sebanyak 546.114 ekor, dengan jumlah induk sebanyak 37,36 persen dari populasi.
  Angka kelahiran mencapai 66,7 persen dari jumlah induk sapi, dan angka kematian anak sapi mencapai 20 persen dari jumlah ternak sapi yang lahir.
  Jumlah pedet sebanyak 101.239 ekor, jumlah pemotongan betina produktif dan pemotongan tidak tercatat sebesar 20 persen dari pemotongan tercatat.
  Jumlah pemotongan dalam daerah sebesar 41.575 ekor dan jumlah sapi bibit dan sapi potong yang dikeluarkan dari wilayah NTB tercatat sebanyak 28.500 ekor.
  Dengan penerapan program NTB-BSS, diharapkan terjadi peningkatan jumlah induk sapi sebesar 38-42 persen dari populasi, peningkatan kelahiran pedet sebesar 75-85 persen dari jumlah induk.
  Penurunan angka kematian pedet sebanyak 18-10 persen dari jumlah sapi yang lahir, penurunan pemotongan sapi betina produktif hingga 15-8 persen dari jumlah pemotongan tercatat dan pertumbuhan populasi sapi sebesar 10-15 persen per tahun.
  Salah satu indikator keberhasilan program BSS itu yakni jumlah kelahiran sapi/pedet setiap tahunnya yakni satu induk satu anak setiap tahun. (*)


Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026