Rabu, 18 Oktober 2017

Jangan Kalap Beli Kebutuhan Selama Ramadhan

id laju inflasi
Jangan Kalap Beli Kebutuhan Selama Ramadhan
Dokumentasi pedagang sayur melayani pembeli di Pasar Badung, Denpasar, Bali. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
"Kalap itu kan, yang gak dibutuhkan diborong, tenang saja tidak usah sampai panik"
Mataram (Antara NTB) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Nusa Tenggara Barat mengimbau masyarakat untuk tidak kalap membeli kebutuhan pokok selama Ramadhan sehingga tidak menimbulkan gejolak harga di pasaran.

"Kalap itu kan, yang gak dibutuhkan diborong, tenang saja tidak usah sampai panik," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Nusa Tenggara Barat (NTB) Prijono, di Mataram, Jumat.

Ia mengatakan, dari data yang ada bahwa laju inflasi tinggi di NTB terjadi jika bulan puasa terjadi selama satu bulan penuh.

Namun pada 2017, bulan puasa terjadi pada akhir Mei dan akan berakhir pada minggu terakhir Juni 2017.

Oleh sebab itu, lanjut Prijono, pihaknya memprediksi laju inflasi NTB selama bulan puasa tahun 2017 tidak sebesar tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 1 persen.

"Inflasi pada Mei diperkirakan di bawah satu persen. Tapi kalau inflasi pada Juni yang merupakan puncak Ramadhan, inflasi diperkirakan satu persen," ujarnya.

Menurut dia, komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi selama Ramadhan, yakni kebutuhan pokok berupa daging sapi, daging ayam, telur, cabai, bawang dan tomat.

"Kalau saat ini komoditas yang mengalami kenaikan adalah bawang putih, tapi masih dalam taraf wajar atau tidak terlalu meresahkan konsumen," katanya.

BI NTB, lanjut Prijono, sudah berkoordinasi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) NTB terkait dengan antisipasi kenaikan harga komoditas.

TPID NTB sudah menetapkan empat langkah strategis untuk mengendalikan inflasi selama bulan puasa Ramadan 1438 Hijriah.

Empat langkah strategis tersebut adalah menyelenggarakan pasar murah terintegrasi, memastikan ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga, menjaga kelancaran distribusi barang dan sosialisasi pengendalian inflasi.

"Upaya tersebut sudah dilakukan sejak sebelum bulan puasa, terutama kegiatan pasar murah," ujarnya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) NTB merilis laju inflasi NTB pada Mei 2017 mencapai 0,52 persen akibat kenaikan harga kelompok bahan makanan dan sektor kelistrikan.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS NTB Kadek Adi Madri, menyebutkan komoditas terbesar penyumbang inflasi adalah daging ayam ras, tarif listrik, bawang merah, jeruk, tomat sayur. Selain itu, sepeda motor, ikan bandeng, selar, apel dan telur ayam ras.  (*)

Editor: Awaludin

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga