Pengungsi Bali Dapat Pelayanan Kesehatan Gratis

id reupsi gunung agung

warga terdampak erupsi Gunung Agung di Provinsi Bali mengungsi ke lombok

Karenanya, kami telah menginformasikan kepada semua petugas kesehatan di 11 puskesmas untuk memberikan pelayanan gratis kepada para pengungsi meskipun mereka tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP) Mataram,
Mataram, (Antara)- Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada para pengungsi ancaman erupsi Gunung Agung, Bali.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram dr H Usman Hadi di Mataram, Jumat, mengatakan selama para pengungsi berada di Mataram, Dinkes berkewajiban menjamin kesehatan mereka.

"Karenanya, kami telah menginformasikan kepada semua petugas kesehatan di 11 puskesmas untuk memberikan pelayanan gratis kepada para pengungsi meskipun mereka tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP) Mataram," katanya.

Bahkan, lanjut Usman, pengungsi yang teridentifikasi sedang hamil juga tetap diberikan pelayanan pemeriksaan dan pengobatan secara gratis.

Apabila membutuhkan perawatan lebih lanjut, petugas puskesmas akan memberikan rujukan sebagai bentuk jaminan pelayanan kesehatan bagi para pengungsi.

"Jika ada pengungsi yang melahirkan, tetap kami layani secara gratis dan itu juga dijamin oleh pemerintah melalui program jaminan persalinan (jampersal)," ujarnya.

Ia mengatakan, untuk mengetahui keberadaan para penungsi, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

"Koordinasi itu dimaksudkan untuk mencari tahu di keluarahan-kelurahan mana saja para pengungsi dari Bali berada, sehingga memudahkan kami dalam pemberian pelayanan kesehatan," katanya.

Kepala Bidang Data dan Logistik Badan Penanggulangan Bencaan Daerah (BPBD) Kota Mataram I Made Yasa menyebutkan, berdasarkan data terakhir jumlah pengungsi dari Bali di Mataram saat ini tercatat sebanyak 164 jiwa atau 42 kepala keluarga (KK).

Jumlah itu tersebar di 11 kelurahan dari 50 kelurahan yang ada di Kota Mataram. Lokasi tempat tinggal para pengungsi tersebut antara lain di Kelurahan Mandalika, Mayura, Karang Taliwang, Cakra Barat, Cilinaya, Cakra Selatan, Karang Baru dan Kelurahan Bintaro.

Dari 11 kelurahan yang menjadi lokasi tempat tinggal para pengungsi yang memilih tinggal bersama keluarga dekat mereka itu, paling banyak tinggal di Kelurahan Bintaro dengan jumlah sebanyak 15 KK.

"Data awal jumlah pengungsi 170 jiwa atau 44 KK, namun saat ini berkurang, tapi belum tahu secara pasti pengurangannya apakah karena pindah pengungsian atau kembali ke kampung halamannya," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar