Stok elpiji bersubsidi terancam kosong di Lombok

id Pertamina,Elpiji ,Pulau Lombok

Kapal tanker Pertamina yang mengangkut bahan bakar gas (elpiji) belum bisa sandar di Depot Manggis, Bali, karena cuaca ekstrem di perairan laut Bali. (Foto Antaranews NTB/Pertamina) (1)

Informasi yang saya terima stok elpiji di Depot Manggis juga kosong karena kapal tanker belum bisa sandar dari kemarin
Mataram (Antaranews NTB) - PT Pertamina (persero) memperkirakan stok elpiji bersubsidi tiga kilogram terancam kosong di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, karena kapal pengangkut bahan bakar gas belum bisa sandar di dermaga Depot Manggis, Bali.

Sales Eksekutif Elpiji Rayon IX PT Pertamina Firdaus Sustanto di Mataram, Kamis, mengatakan kapal tanker Pertamina yang mengangkut "Liquefied petroleum gas" (LPG) masih belum bisa sandar sejak Rabu (1/8), hingga Kamis petang karena kondisi cuaca ekstrem yang melanda perairan Bali, dan sekitarnya.

"Kalau mobil skidtank pengangkut elpiji milik SPPBE belum bisa mengisi LPG di Depot Manggis, otomatis belum bisa balik ke Lombok. Jadi stok bisa kosong. Tapi informasinya kapal sudah bisa sandar," katanya.

Ia mengatakan kebutuhan elpiji untuk Pulau Lombok dipasok dari Depot Manggis. Setiap hari ada kapal tongkang mengangkut mobil skidtank untuk melakukan pengisian elpiji di Bali.

Saat ini, kata Firdaus, ketahanan stok elpiji di Pulau Lombok hanya 0,5 hari atau setara 157 metriks ton (MT). Sementara ketahanan stok dalam kondisi normal mencapai 750 MT atau selama tiga hari.

"Informasi yang saya terima stok elpiji di Depot Manggis juga kosong karena kapal tanker belum bisa sandar dari kemarin," ujarnya.

Selain kapal tanker belum bisa sandar, lanjut Firdaus, kemungkinan terjadinya kekosongan stok elpiji juga disebabkan kondisi antrian panjang kapal sandar di dermaga Pelabuhan Padangbai, Bali.

Informasi yang diperoleh dari SPPBE di Pulau Lombok, perjalanan kapal tongkang pengangkut mobil skidtank dari Lombok-Bali (pulang-pergi) selama 24 jam, sedangkan kapal ferry delapan jam.

Namun kondisi yang terjadi sekarang ini adalah antrean panjang sehingga perjalanan pulang-pergi kapal tongkang menempuh waktu hingga 48 jam, sedangkan kapal ferry 16 jam.

"Kami berharap kondisi tersebut bisa mendapat perhatian dari Syahbandar Pelabuhan Padangbai, agar dapat membantu memprioritaskan sandar untuk kapal pengangkut LPG ke Pulau Lombok," kata Firdaus.

Ia juga berharap pembangunan depo mini elpiji di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, bisa rampung sesuai perencanaan sehingga ketahanan stok bisa mencapai enam hari.

Proses pembangunan depo mini elpiji berkapasitas 2 x 1500 MT tersebut dilakukan oleh PT Patra Niaga yang merupakan anak perusahaan PT Pertamina.

"Progres pembangunan sudah mencapai 85 persen, estimasi November 2018 sudah beroperasi," kata Firdaus sambil berharap kondisi cuaca perairan laut normal sehingga tidak terjadi kelangkaan elpiji di Pulau Lombok. (*)
Pewarta :
Editor: Awaludin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar