Penerima bantuan jangan khawatir kekurangan panel risha

id rumah risha

Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah saat melakukan peletakan batu pertama Hunian Tetap (HUNTAP) tahan gempa yang dilanjutkan dengan pemasangan konstruksi Risha secara simbolis, di Dusun Lokok Beru, Desa Salut, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, Selasa (25/9).

Mataram (Antaranews NTB) - Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang mengingatkan agar semua korban gempa bumi yang sudah menerima dana bantuan pembangunan rumah tahan gempa terutama jenis rumah instan sederhana sehat (Risha), tidak khawatir kekurangan panel.

"Sebaiknya, warga pastikan seluruh proses dipercepat dan pihak aplikator selaku penyedia panel Risha akan berusaha memenuhi kebutuhan korban agar bisa segera membangun kembali rumah mereka," katanya di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jumat.

Ia menambahkan jaminan ketersedian panel ada diaplikator, yang penting segala proses dan administrasi bisa persiapkan segera, apalagi saat Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani datang ke Mataram, aplikator sudah diminta mempercepat penyediaan panel agar masyarakat yang sudah menerima dana bantuan pembangunan rumah tahan gempa bisa segera mengerjakan.

Namun demikian, lanjutnya dalam proses pencairan dana bantuan tidak ada transaksi yang dilakukan antarindividu ke individu, akan tetapi semua transaksi dilakukan melalui kelompok masyarakat (pokmas).

"Pokmaslah yang akan melakukan transaksi dengan penyedia panel atau aplikator, dimana satu unit panel Risha telah ditetapkan yakni Rp23,8 juta," lanjutnya.

Oleh karena itu, untuk mempercepat proses transaksi tersebut, masing-masing individu penerima bantuan dipastikan sudah mentransfer biaya panel ke rekening pokmas dengan persyaratan yang telah disederhanakan dari 17 lembar menjadi satu lembar.

"Untuk Risha, pokmas transaksi langsung dengan aplikator sedangkan untuk rumah instan konvensional (Riko), melakukan transaksi dengan penyedia bahan bangunan sehingga rumah tahan gempa bisa langsung dikerjakan," ujarnya.

Tapi sebelumnya, tambah Martawang untuk bisa melakukan transaksi baik dengan aplikator maupun penyedia bahan bangunan, masing-masing pokmas Risha dan Riko harus jelas perencanannya.

"Di sinilah, peran dari fasilitor memandu pokmas dan ada jaminan bahwa bangunan yang dibangun warga tersebut tahan gempa," katanya.

Terutama untuk Riko, harus dipastikan jangan sampai dibangun tidak melalui proses perencanaan yang matang sebab itu akan dipertanggungjawabkan di kemudian hari.

"Kalau untuk Risha, telah lolos diuji dengan guncangan hingga 9 skala richter," ujarnya.

 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar