KKP bangun menara pandang ekowisata mangrove sekotong

id Wisata Sekotong

WISATA SNORKELING Dua orang wisatawan mancanegara bersiap mencoba bermain snorkeling di pantai Gili Nanggu,Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Gerung,Lombok Barat, NTB, Jumat (28/5). Keindahan alam bawah lautnya membuat para wisatawan betah melakukan Snorkeling melihat ikan-ikan secara langsung dan biasanya Gili Nanggu ramai dikunjungi wisatawan mancanegara antara bulan Juni hingga Agustus.(Foto:Ahmad Subaidi/
ANTARAMataram.com/10)

Mataram (Antaranews NTB) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membangun menara pandang setinggi 10 meter agar para wisatawan bisa menikmati dari ketinggian indahnya kawasan ekowisata mangrove di Desa Cendi Manik, Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Koordinator Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar Wilayah Kerja NTB, Barmawi, di Mataram, Jumat, menjelaskan pembangunan menara pandang tersebut merupakan program Direktorat Jasa Kelautan, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, KKP.

"Sekarang masih dalam proses pembangunan dan harus rampung akhir November atau sebelum akhir tahun ini," katanya.

Ia berharap dengan adanya menara pandang tersebut akan menjadi magnet sehingga semakin banyak wisatawan yang datang ke ekowisata mangrove untuk berlibur sambil memahami arti penting hutan bakau bagi kehidupan biota laut dan manusia.

Ekowisata mangrove seluas 15 hektare tersebut dikelola oleh Kelompok Masyarakat Pengelola Ekowisata Mangrove (Pokmaslawisma) Bagek Kembar, Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong.

BPSPL Denpasar Wilayah Kerja NTB, yang berada di bawah KKP, merupakan pembina Pokmaslawisma Bagek Kembar, yang menjadi mitra dalam program penanaman sebanyak 120.000 batang bibit mangrove yang dilakukan pada 2016.

"KKP memberikan dukungan dalam hal penyediaan infrastruktur pendukung, sedangkan BPSPL membantu dari sisi peningkatan kapasitas dan manajemen pengelolaan oleh kelompok," ujarnya.

Menurut dia, menara pandang tersebut bisa dijadikan sebagai lokasi swafoto (selfie) oleh para wisatawan dengan latar hamparan tanaman mangrove dan pemandangan kapal-kapal ferry di Pelabuhan Lembar.

Setelah puas berswafoto, lanjut Barmawi, wisatawan bisa menikmati asyiknya bermain kano mengelilingi areal perairan di dalam kawasan yang dipenuhi tanaman mangrove.

KKP juga sudah membangun empat "berugak" (gazebo) sebagai tempat melepas lelah sambil menikmati sajian kuliner ikan dan kepiting yang dijual oleh warga setempat.

Sambil menikmati sajian kuliner, wisatawan bisa menggali informasi seputar ekowisata mangrove di rumah informasi yang disediakan oleh BPSPL Denpasar Wilayah Kerja NTB.

"Soal sarana mandi cuci dan kakus, tidak perlu khawatir. Kami sudah membangun tiga unit MCK. Pokoknya kami terus meningkatkan infrastruktur pendukung ekowisata mangrove bagek kembar," kata Barmawi sambil berharap agar infrastruktur jalan diperhatikan oleh pemerintah daerah setempat. 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar