Kejaksaan gelar perkara kasus pencucian uang Bank NTB

id Bank NTB

(1)

Mataram (Antaranews NTB) - Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Barat kembali melakukan gelar perkara kasus dugaan pencucian uang di Bank Pembangunan Daerah (BPD) NTB Cabang Dompu yang menimbulkan kerugian negara Rp6,3 miliar.

Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejati NTB Dedi Irawan di Mataram, Rabu, mengatakan kasusnya kembali digelar dengan tujuan memantau konsistensi penanganannya yang sudah masuk dalam tahap penyidikan namun belum ada tersangka.

"Hasil gelar perkaranya belum ada, baru pemantapan penyidikan saja," kata Dedi Irawan.

Saat disinggung apakah masih ada saksi yang akan diperiksa oleh tim penyidik jaksa, Dedi Irawan belum dapat memastikannya karena kewenangan tersebut ada di tim penyidik jaksa.

Kejati NTB meningkatkan penanganan kasusnya ke tahap penyidikan setelah menggelar perkaranya pada pertengahan Oktober 2018.

Salah satu alat bukti yang mendorong kasusnya ditingkatkan ke tahap penyidikan yakni adanya temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait aliran dana yang tidak sehat senilai Rp6,3 miliar.

Dari data yang diperoleh, nominal Rp6,3 miliar muncul dari lima bentuk transaksi yang mengalir ke pihak debitur secara bertahap, mulai dari pencairan Rp3 miliar, Rp1,5 miliar, Rp1 miliar, Rp500 juta, hingga Rp200 juta.

Aliran dananya diduga masuk kepada oknum pejabat BPD NTB maupun pihak ketiga yang berperan sebagai mitra perbankan. Bahkan, terendus modus pencairannya yang tidak prosedural alias melanggar kesepakatan kontrak dengan mitra perbankan.

Dalam tahap penyelidikannya, jaksa pernah meminta keterangan dari kalangan kreditur BPD NTB sampai debitur bank.

Kasus dugaan TPPU ini merupakan hasil pengembangan dari kasus pidana korupsi yang lebih dahulu ditangani penyidik jaksa. Kasusnya berkaitan dengan pemberian kredit senilai Rp10 miliar yang diduga bermasalah.

Namun dari penanganan kasus awalnya, penyidik juga belum melakukan penetapan tersangka, karena kasus yang telah masuk dalam tahap penyidikan tersebut masih dalam tahap pengembangan jaksa.
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar