NTB dilanda iklim ekstrem saat puncak musim hujan

id BMKG,Iklim Ekstrem,Musim Hujan,Provinsi NTB

.

Dengan kondisi Provinsi NTB yang sudah mulai memasuki musim hujan, perlu diwaspadai terjadinya angin puting beliung, banjir, dan tanah longsor
Lombok Barat (Antaranews NTB) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Lombok Barat memperkirakan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) akan dilanda iklim ekstrem pada puncak musim hujan di pertengahan Januari 2019.

"Dengan kondisi Provinsi NTB yang sudah mulai memasuki musim hujan, perlu diwaspadai terjadinya angin puting beliung, banjir, dan tanah longsor," kata Plt Kepala Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Luhur Tri Uji Prayitno di Lombok Barat, Jumat.

Ia menjelaskan dari monitoring hari tanpa hujan (HTH) di NTB, didominasi kategori sangat pendek (1 hingga 5 hari tanpa hujan) hingga pendek (6 hingga 10 hari tanpa hujan). Bahkan, masih ada wilayah di NTB, masih terjadi hujan hingga tanggal update terakhir.

Curah hujan pada dasarian I Januari 2019 di wilayah NTB, secara umum berada pada kategori rendah atau kurang dari 50 milimeter (mm) per dasarian, di Pulau Sumbawa hingga menengah (51 hingga 150 mm/dasarian) di Pulau Lombok.

Analisis curah hujan didasarkan pada pengamatan sampai dengan 10 Januari 2019 di Kabupaten/Kota Bima berkisar antara 0 sampai 300 mm, Dompu 0 sampai 300 mm, Kota Bima 21 sampai 300 mm, dan Lombok Barat 11 sampai 200 mm.

Sementara di Kabupaten Lombok Tengah berkisar antara 21 sampai 300 mm, Lombok Timur 21 hingga 300 mm, Lombok Utara 51 hingga 200 mm, Mataram 11 hingga 50 mm, Sumbawa 0 hingga 200 mm, dan Sumbawa Barat 0 hingga 150 mm.

"Sifat hujan dasarian I Januari 2019 secara umum berada dalam kondisi di bawah normal (BN) di Pulau Lombok, dan atas normal (AN) untuk wilayah Pulau Sumbawa," ujar Luhur.

Terkait dengan kondisi dinamika atmosfer, ia mengemukakan aliran massa udara di sebagian besar wilayah Indonesia sudah didominasi oleh angin baratan.

Kondisi suhu muka laut di perairan NTB, masih menunjukan kodisi cenderung normal, sedangkan kondisi suhu muka laut di Samudera Pasifik, saat ini menunjukkan ada indikasi el nino dengan intensitas lemah.

Ia menambahkan analisis angin menunjukkan angin baratan sudah mendominasi wilayah NTB.

Kondisi tersebut mengakibatkan meningkatnya peluang terbentuknya awan-awan konvektif hujan di sebagian besar wilayah NTB.

"Pergerakan Madden Jullian Oscillation (MJO) saat ini sedang tidak aktif di wilayah benua maritim menyebabkan wilayah subsiden/kering mendominasi dan kurang mendukung peluang pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia," jelasnya.

Sementara peluang kejadian hujan pada dasarian II Januari 2019 di seluruh wilayah NTB, menurutnya masih relatif tinggi.

Hujan dengan kategori rendah atau lebih dari 20 mm/dasarian dan menengah atau lebih dari 50 mm/dasarian, memiliki peluang lebih dari 80 persen terjadi di seluruh wilayah NTB.

"Untuk hujan dengan kategori tinggi atau lebih dari 100 mm/dasarian, dominan memiliki peluang 30-100 persen terjadi di seluruh wilayah," ucap Luhur.
Pewarta :
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar