Pelaku wisata NTT juga keluhkan mahalnya tiket pesawat

id Tiket pesawat,Nusa Tenggara,Timur Indonesia

Tarif pesawat masih dikeluhkan terlalu mahal (ANTARA FOTO/Lucky R.)

Mataram (Antaranews NTB) - Sejumlah pelaku wisata atau operator tur yang beroperasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur mengeluhkan mahalnya tarif penerbangan yang berdampak merugikan penjualan paket wisata ke provinsi setempat.

"Dampak kebijakan bagasi berbayar dan mahalnya tiket pesawat ini mulai terasa khususnya untuk penjualan paket wisata bagi grup-grup domestik," kata pemilik operator tur, Flobamor Tours, Abed Frans kepada Antara di Kupang, Selasa.

Ia mengatakan hal itu terkait dampak kebijakan bagasi berbayar serta kenaikan harga tiket yang terjadi pada maskapai penerbangan di Tanah Air seperti Lion Air dan Wings Air.

Abed mengaku dampak kebijakan tersebut mulai dirasakannya karena ada paket wisata grup untuk domestik yang sebelumnya sudah diboking namun ditunda.

"Wisatawan akhirnya menunda kunjungan sampai setelah Lebaran dengan harapan ada perubahan kebijakan dari maskapai nantinya," katanya.

Abed yang juga merupakan Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) NTT itu mengatakan, mahalnya tarif penerbangan itu tidak hanya berdampak pada penjualan paket wisata namun juga sektor usaha wisata lainnya.

Menurutnya, wisatawan yang berkunjung ke daerah wisata akan berpikir ulang untuk membelanjakan produk kerajinan tangan karena khwatir biaya bagasi pesawat.

"Otomatis usaha-usaha kecil menengah masyarakat yang menjual suvenir atau oleh-oleh juga terdampak," katanya.

Untuk itu, Abed berharap kebijakan tersebut bisa dikaji kembali sehingga tidak berdampak merugikan sektor pariwisata yang saat tengah dikembangkan secara masif untuk mendukung perekonomian di daerah.

Secara terpisah, operator tur Panorama yang beroperasi di Labuan Bajo, Andre, mengatakan mahalnya tarif penerbangan sudah berdampak pada pembelian paket wisata yang berkurang terutama dari kalangan domestik.

"Kondisi yang terasa sekarang pemesanan paket wisata berkurang dibandingkan dengan Januari-Februari 2018 lalu," katanya ketika dihubungi Antara dari Kupang.

Andre mengatakan, selain itu berkurangnya pemesanan paket wisata ini juga terjadi karena masa "low season" akibat cuaca yang tidak menentu.

"Antara Januari-Maret itu biasanya kami lebih hati-hati menjual paket wisata karena takutnya tamu-tamu sudah datang tapi tidak bisa berwisata karena cuaca buruk," katanya.

Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar