Jokowi tegaskan pemelihaan kesehatan penting untuk tingkatkan SDM

id Presiden Jokowi

Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo menegaskan bahwa Indonesia tidak akan pernah bubar di depan ribuan massa yang tergabung dalam kelompok alumni mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang mendeklarasikan dukungannya terhadap dirinya yang berpasangan dengan Ma'ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden untuk periode 2019-2024 di Plaza Tenggara Komplek Gelora Bung Karno Jakarta, Sabtu (12/1/2019). (Foto istimewa)

Mataram (Antaranews NTB) - Presiden Joko Widodo menegaskan pemeliharaan kesehatan penting sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia.



  "Kesehatan ini sangat 'basic' sekali, jangan sampai kita berbicara persaingan dengan negara lain, kompetisi dengan negara lain, tetapi kita memiliki 'stunting' 37 persen," kata Jokowi dalam sambutannya saat acara Pembukaan Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) Tahun 2019 di ICE, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan pada Selasa.



  Presiden meminta para pemangku kepentingan termasuk kepala dinas kesehatan di semua tingkat untuk menyelesaikan masalah kesehatan pertumbuhan yang menyebabkan kekerdilan atau "stunting".



  Kepala Negara mengapresiasi upaya Kementerian Kesehatan yang menurunkan angka stunting dari 37 persen pada 2014 menjadi 30 persen pada 2018.



  Kendati demikian, mantan gubernur DKI Jakarta itu meminta kasus stunting di seluruh Indonesia diselesaikan.



  Selain stunting, Presiden juga menyoroti masalah kematian ibu melahirkan.



  "Jangan sampai negara lain sudah berbicara 'artificial inteligence, sudah berbicara virtual reality, sudah berbicara 'internet of things', sudah berbicara 'big data', sudah berbicara 'bit coin', 'crypto currency'. Kita urusan 'stunting' saja belum selesai, urusan kematian ibu belum rampung," jelas Jokowi. 



  Menurut Presiden, dengan tingkat kesehatan masyarakat yang meningkat, maka kualitas SDM dapat didorong ke arah yang lebih baik.



  Jokowi juga menjelaskan pembangunan SDM menjadi syarat mutlak agar Indonesia tidak terjebak sebagai negara berpendapatan menengah.

Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar