Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebutkan empat poin penting yang menjadi pembahasan untuk melestarikan salah satu situs tertua di dunia Leang-Leang yang ada di Sulawesi Selatan.
Di antaranya Menbud menyoroti nilai penting dan universal Leang-Leang, dan mendorong narasi global untuk memposisikan kawasan ini sebagai “kapsul waktu” abadi dalam merancang pondasi peradaban pertama.
“Dinding Gua Leang-Leang bukan sekadar formasi batuan biasa, melainkan kanvas monumental tempat manusia modern pertama kali mengekspresikan pemikiran artistiknya,” kata Fadli dalam keterangannya, Jumat.
Poin kedua, Fadli menilai pelestarian konvensional saja tidak cukup untuk menjawab tantangan zaman, maka itu diperlukan pendekatan baru terhadap pelestarian, yaitu reinventing warisan, lebih dari sekadar konservasi.
Ia menjelaskan bahwa proses reinventing ini dapat dilakukan melalui tiga strategi, seperti reprogramming dengan mentransmutasikan legenda manusia 51.000 tahun lalu menjadi pengalaman imersif, misalnya melalui produksi film animasi 4D berteknologi mutakhir.
Lalu, redesigning, yakni menjadikan gua sebagai “laboratorium hidup” yang menghidupkan masa lalu. Terakhir, reinvigorating lewat program residensi dan pertukaran peneliti.
Ketiga, Menbud Fadli Zon menekankan bahwa warisan budaya memiliki peran strategis sebagai pengungkit ekonomi masyarakat lokal. Ia menyampaikan bahwa pelestarian budaya harus terintegrasi dengan penguatan ekonomi dan perlindungan lingkungan.
“Visi besar kita harus berdiri di atas tiga pilar yaitu pelestarian, pemberdayaan ekonomi lokal, dan tanggung jawab ekologis,” katanya.
Baca juga: Fadli Zon ungkap pentingnya Situs Patiayam jadi cagar budaya
Ia juga mengangkat pentingnya pengembangan green tourism, pemanfaatan teknologi untuk pengalaman edukatif, serta pendekatan adaptive reuse, seperti penyelenggaraan konferensi dan kegiatan ilmiah langsung di sekitar situs.
Keempat yang menurut Fadli penting adalah kolaborasi holistik lintas sektor dan lintas budaya. Ia mendorong pelibatan aktif komunitas lokal, pelatihan pemandu sebagai duta budaya, serta penguatan jejaring riset bersama lembaga, seperti BRIN dan universitas internasional.
Ia menekankan bahwa untuk mencapai status Warisan Dunia UNESCO, dibutuhkan riset multidisiplin, pembentukan tim nominasi yang terstruktur, serta strategi holistik dengan dampak berkelanjutan bagi masyarakat dan wilayah sekitar.
Baca juga: Bekasi resmikan situs Kramat Batok sebagai tempat wisata religi
“Leang-Leang bukan hanya jendela untuk melihat kembali masa lalu manusia, melainkan juga merupakan teropong canggih yang mengarahkan pandangan kita menuju masa depan berkelanjutan,” pungkas Fadli.
Ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya akademisi dan generasi muda untuk menjadikan kebudayaan Indonesia bukan sekadar warisan yang dilestarikan, tetapi kekuatan dinamis yang berkembang melalui inovasi dan kolaborasi.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menbud sampaikan empat poin penting pelestarian situs Leang-Leang
Pewarta : Fitra Ashari
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026