Resep obat zat besi anak perlu dikonsultasikan pada dokter

id zat besi,suplemen zat besi,tablet tambah darah,idai

Resep obat zat besi anak perlu dikonsultasikan pada dokter

Pelajar menunjukkan vitamin saat mengikuti Gerakan Cegah Stunting Dengan Aksi Bergizi di MA NU Banat, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (8/5/2025). Aksi Bergizi program Kemenkes bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat dengan kegiatan senam sehat dan minum tablet tambah darah itu sebagai upaya penguatan gizi dan mencegah stunting sejak dini serta mencegah kekurangan zat besi pada remaja putri guna mewujudkan generasi muda yang sehat dan unggul. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/wpa.

Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan bahwa resep obat yang mengandung zat besi bagi anak perlu dikonsultasikan kepada dokter karena kebutuhan setiap orang berbeda-beda.

"Jadi zat besi itu sebaiknya dengan resep dari dokter, supaya dosis (obat)-nya pas dan sesuai kebutuhan," kata Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hematologi Onkologi IDAI Prof. Dr. dr. Harapan Parlindungan Ringoringo, Sp.A, Subsp.H.Onk (K) dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan bahwa kebutuhan besi dari seorang bayi, anak, remaja, dan dewasa berbeda-beda jadi tidak bisa dipukul rata.

Parlin mengatakan bentuk dan tata cara meminum obat yang diresepkan pada tiap usia juga tidak sama. Obat bagi bayi atau anak di bawah 5 tahun misalnya, rata-rata akan diberikan dokter dalam bentuk sirup.

Baca juga: Fungsi zat besi dan solusi fortifikasi gizi bagi balita

Hal ini dikarenakan tablet tambah darah (TTD) tidak dapat digerus karena dapat merusak obat dan menyebabkan oksidasi.

"Jadi sekali lagi, diingatkan bahwa tablet tambah darah tidak bisa digerus. Sehingga untuk bayi harus diberikan pakai drops ataupun sirup," ujar Parlin.

Sementara untuk usia remaja, dokter sudah dapat memberikan obat berupa tablet karena dianggap sudah lebih mandiri. Pemberian TTD diberikan sebanyak 1 tablet per minggu dalam setahun.

Pemerintah Indonesia, katanya, saat ini juga sudah mulai menggalakkan pemberian TTD sebagai salah satu upaya mencegah lebih banyak anak perempuan terkena anemia yang berpengaruh pada kualitas generasi berikutnya di masa depan.

Pemberian tablet tambah darah menyasar anak remaja putri yang duduk di bangku SMP dan SMA.

Baca juga: Minum teh bersamaan dengan makan tidak disarankan, begini kata dokter

"Pemerintah sudah berikan ke setiap sekolah remaja putri SMP atau SMA 52 butir. Jadi, 1 tablet setiap minggu selama 1 tahun, dikasih secara gratis," ucap dia.

Dalam kesempatan itu, Parlin menyampaikan IDAI tidak hanya terus memberikan edukasi masif kepada masyarakat terkait bahaya kekurangan zat besi, tetapi juga menyangkut beberapa hal krusial lainnya seperti pentingnya memberikan ASI selama mungkin pada bayi sejak dilahirkan.

Keluarga juga didorong memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang diperkaya dengan bahan pangan yang mengandung zat besi (Fe) seperti hati ayam dan ikan.

Supaya anak mendapatkan zat besi yang cukup, IDAI turut menyarankan untuk menghindari peningkatan berat badan yang berlebihan. Bagi tenaga medis, dapat melakukan tunda penjepitan tali pusat 1-3 menit dan melaksanakan peningkatan layanan antenatal.

Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.