Lombok Tengah (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk merevitalisasi saluran irigasi peninggalan orde lama agar dapat meningkatkan produktivitas pertanian daerah.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, revitalisasi jaringan irigasi lama lebih tepat ketimbang membangun saluran irigasi baru yang memerlukan waktu lama karena urusan pembebasan tanah dan pembangunan infrastruktur.
"Daripada membangun baru lebih baik menghidupkan irigasi lama yang tinggal diperbaiki. Alhamdulillah, usulan itu langsung disetujui oleh Presiden dan kini sudah diimplementasikan," ucapnya saat meninjau pelaksanaan optimalisasi lahan di Lombok Tengah, Rabu.
Iqbal menuturkan, revitalisasi saluran irigasi lama membuat petani di Desa Penujak, Lombok Tengah, kini dapat melakukan tiga kali panen dalam setahun (IP300) karena pasokan air yang lancar.
Baca juga: Antisipasi banjir, Pemkot Mataram gencarkan normalisasi saluran air
Ia menginstruksikan, Dinas Pertanian NTB untuk segera mendata seluruh jaringan irigasi yang belum tersentuh perbaikan agar dapat diusulkan untuk tahap berikutnya.
Pada 2025, Nusa Tenggara Barat mendapat alokasi program optimalisasi lahan dari Kementerian Pertanian seluas 10.574 hektare yang tersebar di tujuh kabupaten.
"Kalau program ini terus berlanjut, maka empat tahun ke depan hampir semua irigasi di NTB bisa berfungsi optimal. Ini bukan hanya soal pertanian, tapi soal kemandirian pangan dan kesejahteraan petani," katanya.
Baca juga: Saluran air ruas Jalan Kediri-Kuripan Lombok Barat dinormalkan
Program optimalisasi lahan menjadi langkah strategis Pemerintah NTB dalam meningkatkan produktivitas pertanian melalui revitalisasi jaringan irigasi lama dan pemanfaatan lahan tidur.
Iqbal berharap program itu menjadi model revitalisasi pertanian berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat yang tidak hanya memperbaiki infrastruktur air, tetapi juga memulihkan semangat gotong royong petani dalam mengelola sumber daya alam daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi produksi beras Nusa Tenggara Barat pada tahun 2025 mengalami kenaikan sebanyak 16,65 persen atau setara 173,86 ribu ton ketimbang pencapaian setahun sebelumnya.
Analisa BPS memperkirakan total produksi beras tahun ini mencapai 965,64 ribu ton atau mengalami peningkatan sebesar 173,86 ribu ton dibanding tahun 2024.
Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan, peningkatan produksi beras disebabkan oleh penambahan luas panen dan peningkatan frekuensi tanam melalui program optimalisasi lahan pertanian tersebut.
Baca juga: PUPR Mataram menerapkan sistem penyekat sampah di saluran air
