Mataram (ANTARA) - Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan peran wastra sebagai instrumen diplomasi budaya yang kuat serta berpengaruh melalui pameran temporer bertajuk Kain dan Diplomasi Budaya yang berlangsung pada 10 Desember 2025 sampai 24 Januari 2026.
"Nusa Tenggara Barat menjadi tempat silang budaya dan silang sejarah. Perdagangan internasional yang berkembang dari abad ke-12 sampai abad ke-20 membuat banyak kain terpengaruh," kata Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam saat diwawancarai di Mataram, Rabu.
Sejak zaman dahulu sampai sekarang, Nusa Tenggara Barat merupakan jalur perdagangan penting internasional karena posisi geografis di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II. Wilayah ini berperan sebagai simpul konektivitas maritim di wilayah timur Indonesia.
Nuralam mengatakan salah satu tenun yang terpengaruh budaya dan sejarah luar negeri adalah dodot songket yang dibuat perajin Lombok sekitar tahun 1900-an. Kain tenun tersebut bermotif lyrebird atau burung kecapi endemik Australia.
Baca juga: Museum NTB siapkan museum tematik sejarah Tambora dan Samalas
Menurutnya, dodot songket menjadi penunjuk bahwa telah terjadi interaksi masyarakat Nusa Tenggara Barat dengan dunia luar.
"Itu membuktikan bahwa masyarakat Nusa Tenggara Barat bukan masyarakat yang berada di pojokan Nusantara, tidak ada interaksi dengan budaya lain. Tapi ternyata kami memiliki itu," ucap Nuralam.
Museum NTB menampilkan 59 koleksi artefak dalam pemeran wastra bertajuk Kain dan Diplomasi Budaya tersebut. Rincian koleksi yang dipamerkan meliputi 50 helai koleksi kain, 4 naskah kuno, 1 Alquran tulis tangan, serta empat koleksi dari UPT Museum Kabupaten Sumbawa.
Baca juga: Museum NTB paparkan hasil kajian budaya Gula Gending Lombok
Puluhan koleksi tersebut ditata sesuai standar internasional dengan menyatukan nilai keunggulan kain, pencahayaan, dan suasana.
Nuralam menuturkan pihaknya membagi pameran itu ke dalam empat tema, yakni tema benang yang menghubungkan dunia, pesan damai dalam motif, kain sebagai budaya, dan tema jalinan masa depan.

Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri menyampaikan bahwa budaya bukan hanya warisan, tetapi juga bahasa universal yang mampu menyatukan perbedaan.
"Di setiap helai benang tersimpan falsafah nenek moyang, sistem pengetahuan, kosmologi, dan harapan untuk generasi masa depan," kata Indah.
Lebih lanjut ia mengungkapkan dalam dunia yang kian terhubung, diplomasi tidak lagi hanya berlangsung di ruang-ruang politik. Diplomasi bergerak melalui seni dan kerajinan, pertunjukan, kuliner, dan salah satunya adalah kain tradisional.
Ketika tenun, batik, songket, atau rangrang tampil di panggung internasional, maka itu bukan hanya motif yang diperlihatkan melainkan martabat bangsa, identitas kolektif, dan nilai kearifan lokal yang dijunjung bersama.
"Inilah diplomasi yang paling halus, namun paling kuat. Diplomasi yang menggerakkan hati sebelum mempengaruhi pikiran," pungkas Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri.
Baca juga: Museum NTB menggelar lokakarya merawat keris bersama tiga museum Australia
Baca juga: Museum desa jadi motor ekonomi kreatif di NTB