Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menuntaskan pembangunan jembatan permanen yang menjadi penghubung Lingkungan Karang Kemong dan Lingkungan Majeluk yang sebelumnya rusak atau amblas akibat banjir pada 6 Juli 2025.

"Alhamdulillah, proses pembangun Jembatan Karang Kemong sudah selesai per 31 Desember 2025. Jembatan itu, kini sudah bisa dimanfaatkan warga sekitar," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram Lale Widiahning di Mataram, Senin.

Menurutnya, pembangunan Jembatan Karang Kemong menghabiskan anggaran Rp2,3 miliar dengan konstruksi permanen, memiliki desain pipa melengkung berwarna kuning mirip dengan jembatan Dasan Agung, Selapang, Mataram.

Baca juga: Jembatan sementara pasca-banjir di Mataram mulai dimanfaatkan

Selain pembangunan jembatan, Dinas PUPR juga melakukan penataan sempadan sungai, pemasangan delapan titik Penerang Jalan Umum (PJU) di sepadan sungai dan perbaikan hotmix di Jalan Beo sepanjang 800 meter dengan alokasi anggaran Rp400 juta.

"Jalan Beo atau akses masuk ke Jembatan Karang Kemong mengalami rusak karena terpaksa dilintasi alat berat saat dilakukan evakuasi banjir Juli 2025," katanya.

Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana sebelumnya mengapresiasi pengerjaan jembatan penghubung Lingkungan Karang Kemong dan Lingkungan Majeluk yang tuntas tepat waktu dan masyarakat bisa beraktivitas dengan normal kembali.

Baca juga: Pemkot Mataram bangun jembatan rusak akibat banjir di Karang Kemong

Dia berharap banjir hebat yang dampaknya sangat hebat bisa menjadi pembelajaran agar masyarakat bisa menjaga dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya.

Keberadaan jembatan itu, kata dia, akan memudahkan aktivitas masyarakat sekitar sebab saat jembatan ini terputus, cukup banyak aktivitas warga yang terkendala mulai dari pergerakan ekonomi sampai dengan pengantaran jenazah, dimana warga harus memutar jauh untuk bisa menuju ke area pemakaman.

"Dengan penataan jembatan dan sempadan sungai yang rapi bisa menjadi ruang rekreasi dan untuk berdagang sehingga menggerakkan ekonomi lingkungan sekitar," katanya.

Sebelumnya sebagai gerak cepat Pemkot Mataram melakukan penanganan pascabanjir, pemerintah langsung membuat jembatan sementara mengingat pembangunan jembatan permanen butuh waktu karena proses tender.

"Setelah jembatan permanen jadi, kami tidak membongkar jembatan sementara tapi mengalihkan fungsinya untuk kendaraan roda dua, sebab jembatan permanen khusus untuk pejalan kaki," katanya.

Baca juga: Pembangunan jembatan sementara di Mataram capai 93 persen
Baca juga: Jembatan darurat dibangun di Mataram usai banjir Juli 2025
Baca juga: Pembangunan dua jembatan rusak akibat banjir di Mataram ditender



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026