Mataram (ANTARA) - Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat sebanyak 985 kasus suspek campak hingga pekan ketujuh tahun 2026 yang seluruhnya berasal dari Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu.
"Total 985 kasus suspek campak di NTB berasal dari tiga daerah tersebut," kata Kepala Dinas Kesehatan NTB Lalu Hamzi Fikri di Mataram, Kamis.
Fikri mengatakan kasus suspek campak yang tinggi itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi campak-rubela (MR) secara lengkap.
Menurut dia, fluktuasi cakupan imunisasi rutin yang belum optimal dalam beberapa tahun terakhir membuka akumulasi populasi rentan.
"Cakupan imunisasi yang rendah menjadi faktor risiko utama terjadinya kejadian luar biasa," ujar Fikri.
Baca juga: Dompu catat 216 kasus suspek campak, belum KLB
Lebih lanjut ia menyampaikan kasus suspek campak didominasi oleh anak usia di bawah lima tahun dengan sebagian besar kasus terjadi pada anak dengan status imunisasi tidak lengkap atau belum pernah mendapatkan imunisasi.
Mobilitas penduduk yang tinggi pada akhir dan awal tahun juga menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyebaran kasus.
Selain itu, keterlambatan deteksi awal serta faktor lingkungan dan perilaku masyarakat turut berkontribusi terhadap peningkatan kasus.
"Pemerintah terus melakukan monitoring dan evaluasi berkala hingga situasi dinyatakan terkendali," pungkas Fikri.
Baca juga: Mataram sukses jaga nol kasus campak di tengah KLB NTB
Campak adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus campak Morbillivirus. Virus itu menyebar melalui udara saat penderita batuk atau bersin.
Gejala awal campak mirip dengan flu, namun beberapa gejala khas muncul beberapa hari kemudian berupa demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah ruam merah. Gejala campak umumnya mulai dari wajah dan menyebar ke bagian tubuh lain, serta ada titik putih kecil di dalam mulut.
Mobilitas masyarakat yang meningkat dan potensi kerumunan berpotensi memperbesar risiko penularan penyakit menular, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan campak menjelang periode mudik dan libur Lebaran 2026.
Baca juga: Jangan asal sentuh anak saat Lebaran
Baca juga: Telaah - Kala campak mengintai balita
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Alarm campak di NTB: Ketika imunisasi melemah
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026