Lombok Tengah (ANTARA) - Juru parkir dadakan di sejumlah lokasi kuburan atau tempat pemakaman umum (TPU) di wilayah Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) mendapatkan berkah rezeki pada Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah.

"Momentum hari lebaran ini banyak warga yang berkunjung ke TPU atau makam orang tua dan keluarga untuk melakukan ziarah kubur," kata Andi Rahman salah satu  juru parkir di pemakaman umum di Kecamatan Praya di Lombok Tengah, Sabtu.

Ia mengatakan menjadi juru parkir di TPU ini sifatnya sementara atau pada momentum lebaran, karena ia bekerja menjadi juru parkir di ritel modern yang tidak jauh dari TPU tersebut.

"Selama lebaran ini saja bekerja jadi juru parkir di TPU. Kalau setiap hari di ritel modern Kota Praya," katanya.

Baca juga: Seruan Lebaran dari Lombok Tengah: Saatnya saling memaafkan dan pererat persaudaraan

Ia mengatakan omzet yang didapatkan menjadi juru parkir di TPU selama lebaran cukup untuk menambah penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Sedangkan untuk tarif parkir tetap sama seperti parkir di pertokoan Praya yakni sepeda motor Rp2 ribu dan mobil Rp5 ribu.

"Hasilnya cukup untuk kebutuhan keluarga. Bisa di atas Rp100 ribu per hari, kalau ramai, tergantung yang datang," katanya.

Baca juga: Langit Praya Bersinar! Ribuan remaja masjid semarakkan pawai lampion Idul Fitri

Selain itu, momentum ziarah kubur pada lebaran tersebut memberikan keberkahan bagi para pemjual kembang tabur kuburan

"Harga satu bungkus kembang Rp5 ribu," kata Komang salah satu penjual kembang tabur kuburan di jalan protokol Praya.

Pada hari raya Idul Fitri 1447, tradisi ziarah kubur mulai ramai dilakukan oleh umat Islam, termasuk di wilayah Kabupaten Lombok Tengah.

Tradisi yang rutin dilaksanakan setiap tahun tersebut menjadi momen penting untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia.

Baca juga: Pawai lampion takbiran, Lalu lintas Praya Lombok Tengah dialihkan

Warga datang ke TPU biasanya sebelum dan sesudah shalat Idul Fitri dilaksanakan hingga menjelang lebaran ketupat (lebaran Syawal).

"Kami setiap tahun pada momentum Idul Fitri berziarah ke makam orang tua dan keluarga untuk mendoakan almarhum," kata Eny Yusriantsalah satu penziarah kubur.

Ia mengatakan ziarah kubur tersebut merupakan tradisi yang tetap dilakukan setiap tahun dan hal tersebut bisa mengingatkan semua yang hidup di dunia pasti kembali kepada sang pencipta atau Allah SWT.

"Ini membuat kami untuk tetap menjaga ketakwaan dengan menjalankan perintah Allah SWT, karena hidup di dunia ini hanya sementara dan ajal bisa datang kapan saja," katanya.

Baca juga: Takbiran dijaga ketat, 665 aparat turun di Lombok Tengah

Sebelumnya, Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI resmi menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026.

"Berdasarkan hisab dan tidak adanya hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026," kata Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar dalam Konferensi Pers Sidang Isbat 1 Syawal 1447 Hijriah di Kantor Kemenag, Jakarta, Kamis.

Menag menjelaskan keputusan tersebut diambil setelah adanya hasil rukyatul hilal yang dilakukan oleh Tim Hisab Rukyat Kemenag RI, yang menyebutkan bahwa tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia belum memenuhi kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Ia memaparkan secara hisab tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih di bawah ufuk, dengan ketinggian antara 0 54' 27" (0,91) sampai 3 07' 52" (3,13) dan sudut elongasi berada pada 4 32' 40" (4,54) sampai 6 06' 11" (6,10).



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026