Mataram (ANTARA) - Dinas Perdagangan Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, turun ke sejumlah pasar tradisional untuk memantau harga kebutuhan pokok pasca Lebaran Topat atau Ketupat 1447 Hijriah/2026 yang menjadi puncak perayaan Idul Fitri.
Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram Sri Wahyunida di Mataram, Senin mengatakan, berdasarkan hasil pantauan di beberapa pasar tradisional seperti Kebon Roek, Pagesangan, dan Mandalika, harga kebutuhan pokok saat ini masih fluktuasi.
"Hasil pantauan kami sementara, harga kebutuhan pokok masih fluktuasi. Ada yang mengalami kenaikan, ada juga yang turun," katanya.
Kondisi itu, dipengaruhi oleh tingginya permintaan masyarakat selama momen hari raya serta kondisi ketersediaan stok di tingkat pengepul.
Baca juga: Lebaran Topat di Mataram jadi simbol tradisi dan kebersamaan
Dikatakan, dinamika harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional Kota Mataram menunjukkan tren yang bervariasi usai perayaan Lebaran Topat.
Meski beberapa komoditas strategis mulai mengalami penurunan harga, namun komoditas bumbu dapur terutama cabai rawit justru menunjukkan lonjakan yang cukup signifikan.
Dari pantauan lapangan, cabai rawit menjadi komoditas yang mengalami harga paling fluktuatif. Pada hari Jumat atau H-1 perayaan Lebaran Topat, harga cabai sempat turun ke angka Rp80.000 per kilogram, namun hari ini (Senin 30/3-2026) melonjak kembali hingga menembus Rp100.000 per kilogram.
"Peningkatan harga itu kemungkinan karena beberapa pengepul cabai belum sepenuhnya beroperasi normal," katanya.
Sementara komoditas lain yang mengalami penurunan adalah bawang merah dari harga Rp40.000 menjadi Rp35.000 per kilogram karena pasokan stabil.
Bahkan, kata Sri, pasokan bawang saat ini didukung oleh masuknya bawang merah dari luar daerah seperti Padang, mengingat sentra lokal seperti Bima belum memasuki masa panen raya.
Baca juga: Lebaran Topat detak budaya Mataram
Sedangkan untuk telur ayam masih bertahan di harga yang cukup tinggi, berkisar antara Rp52.000 hingga Rp56.000 per tray (satu tray isi 30 butir), tergantung pada ukuran atau bobot telur.
Di sisi lain, beberapa komoditas utama justru mulai menunjukkan tren penurunan harga seperti daging sapi setelah sempat menyentuh angka Rp160.000 per kilogram, kini harga daging sapi mulai turun ke angka Rp140.000 per kilogram.
Kemudian harga daging ayam di Pasar Mandalika terpantau di angka Rp44.000, sementara di Pasar Kebon Roek berada di kisaran Rp45.000 per kilogram.
"Harga itu mulai melandai dibanding puncak masa Lebaran mencapai hingga Rp46.000 hingga Rp47.000 per kilogram," katanya.
Baca juga: Jelang Lebaran Topat, Polisi bersihkan Pantai Loang Baloq Mataram
Menyikapi fluktuasi harga tersebut, Dinas Perdagangan Kota Mataram tidak tinggal diam sehingga fokus utama yang dilakukan pemerintah saat ini menjaga ketersediaan stok agar harga tidak terus meroket.
"Kuncinya ada di stok. Jika stok aman, Insya Allah harga akan melandai. Kami terus berkoordinasi dengan para distributor untuk memastikan pasokan tetap tersedia," katanya.
Sebagai langkah konkret, tambah Sri, Disdag Mataram dijadwalkan akan turun langsung melakukan koordinasi dengan distributor daging ayam bersama Satgas Pangan dan perwakilan dari Kementerian pada hari Rabu (1/4-2026).
"Langkah itu, diambil guna memastikan rantai distribusi kembali normal seiring dengan mulai aktifnya kembali para pedagang dan pengepul di pasar-pasar tradisional," katanya.
Baca juga: Odong-odong dilarang angkut penumpang saat Lebaran Topat
Pewarta : Nirkomala
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026