Mataram (ANTARA) - Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) memasuki fase baru yang semakin menegaskan pergeseran dari lanskap ke peristiwa. Agenda-agenda yang digelar sepanjang tahun bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan instrumen utama untuk menggerakkan arus kunjungan dan aktivitas ekonomi. 

Dengan 69 event yang terjadwal pada 2026, pemerintah daerah menempatkan kalender pariwisata sebagai tulang punggung strategi mencapai target lebih dari 2,55 juta wisatawan.

Pendekatan ini berangkat dari pengalaman empiris. Event terbukti mampu menciptakan efek instan terhadap ekonomi lokal. Perputaran uang ratusan miliar rupiah dalam satu ajang, lonjakan tingkat hunian hotel, hingga meningkatnya aktivitas transportasi menjadi indikator nyata bahwa pariwisata berbasis event memiliki daya dorong yang signifikan. 

Logika kuantitatif pun mengemuka, yakni semakin banyak event, semakin besar peluang ekonomi bergerak.

Namun, pendekatan berbasis jumlah menyimpan persoalan mendasar. Tidak semua event memiliki daya ungkit yang sama. Sebagian mampu menarik wisatawan lintas negara dan menghasilkan dampak ekonomi luas, sementara lainnya hanya berputar di lingkup lokal dengan kontribusi terbatas. 

Ketimpangan ini menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan tidak cukup hanya dihitung dari banyaknya agenda, tetapi harus dilihat dari kualitas dan dampaknya.

Tekanan eksternal turut memperjelas kerentanan model ini. Penurunan wisatawan dari kawasan tertentu akibat dinamika global menjadi pengingat bahwa pasar pariwisata sangat sensitif terhadap faktor di luar kendali daerah. 

Upaya mengalihkan fokus ke pasar regional seperti Asia Tenggara dan Australia menjadi langkah adaptif, tetapi sekaligus menegaskan bahwa event tidak bisa berdiri sendiri tanpa strategi pasar yang tepat.

Di tingkat implementasi, persoalan pemerataan masih menjadi pekerjaan rumah. Event-event besar yang terpusat di kawasan unggulan cenderung menyerap manfaat ekonomi lebih besar dibandingkan wilayah lain. 

Sementara itu, daerah pinggiran yang juga masuk dalam kalender event sering menghadapi keterbatasan sumber daya, promosi, dan aksesibilitas. Ketimpangan ini berpotensi menggerus tujuan awal menjadikan event sebagai alat pemerataan pembangunan.

Aspek keberlanjutan juga menjadi sorotan. Tidak sedikit event yang berhasil menghadirkan keramaian, tetapi gagal meninggalkan jejak jangka panjang. Minimnya peningkatan kapasitas pelaku lokal, lemahnya penguatan identitas budaya, serta kurangnya inovasi membuat sejumlah agenda terjebak dalam rutinitas tahunan tanpa perkembangan berarti. 

Dalam kondisi seperti ini, event berisiko menjadi seremoni berulang, bukan investasi pembangunan.

Kendala struktural seperti mahalnya biaya transportasi turut membatasi jangkauan pasar. Tingginya harga tiket, khususnya transportasi udara, masih menjadi hambatan utama bagi wisatawan untuk menjangkau NTB. Tanpa perbaikan konektivitas dan efisiensi biaya perjalanan, potensi besar dari kalender event akan sulit dioptimalkan.

Karena itu, diperlukan pergeseran pendekatan dari kuantitas menuju kualitas. Kurasi event harus diperkuat dengan menekankan keunikan dan diferensiasi berbasis budaya lokal. 

Setiap agenda perlu memiliki identitas yang jelas agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Integrasi antarwilayah juga menjadi kunci. Event harus dirancang saling terhubung dalam satu alur perjalanan wisata, sehingga mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak pengalaman. 

Di sisi lain, pemanfaatan data harus menjadi fondasi evaluasi, mencakup perilaku wisatawan, tingkat kepuasan, hingga dampak ekonomi riil bagi masyarakat.

Kolaborasi lintas sektor tidak dapat dihindari. Pemerintah, pelaku industri, komunitas, dan masyarakat lokal harus bergerak dalam satu ekosistem yang sama. Keterlibatan aktif masyarakat akan memperkuat autentisitas sekaligus memastikan manfaat ekonomi lebih merata.

Dengan demikian, 69 event pariwisata bukan sekadar capaian administratif, melainkan cerminan arah kebijakan. Ia menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan serius. 

Keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh seberapa ramai sebuah event digelar, tetapi seberapa dalam dampaknya dirasakan. Di titik inilah masa depan pariwisata NTB akan diuji antara sekadar meramaikan kalender, atau benar-benar menggerakkan kesejahteraan.

Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Rinjani: Magnet wisata dan tantangan alam
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - NTB dalam cengkeraman layar: Siapa menjaga anak?
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Lebaran Topat: Tradisi yang menyulut wisata
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Mengayuh di tengah krisis: Uji nyali kebijakan sepeda birokrasi Mataram





COPYRIGHT © ANTARA 2026