Mataram (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut aktivitas panen raya komoditas padi dan jagung berkontribusi terhadap penurunan nilai tukar petani di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Maret 2026.
Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan produksi yang melimpah saat panen raya membuat harga jual menurun, sehingga nilai tukar petani melemah 2,72 persen menjadi 118,20 walau masih berada di atas angka 100.
"Produksi dan stok melimpah menyebabkan harga jual mengalami penurunan, namun penurunan harga itu masih di atas harga pembelian pemerintah," kata Wahyudin di Mataram, Rabu.
BPS NTB mencatat nilai tukar petani Nusa Tenggara Barat berada di angka 129,93 atau menurun sebesar 1,01 persen dibandingkan Februari 2026 yang tercatat sebesar 131,25.
Baca juga: BPS: Lonjakan harga pangan picu inflasi NTB di Maret 2026
Nilai tukar petani bernilai di atas 100 untuk lima subsektor yang meliputi tanaman pangan sebesar 118,20; subsektor hortikultura sebesar 251,97; tanaman perkebunan rakyat sebesar 100,81; subsektor peternakan sebesar 113,54; dan subsektor perikanan sebesar 113,14.
Wahyudin menjelaskan penurunan nilai tukar petani terjadi karena kenaikan indeks harga yang diterima petani hanya sebesar 0,08 persen lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 1,10 persen.
Selain tanaman pangan, imbuh dia, subsektor tanaman perkebunan rakyat juga mengalami penurunan nilai tukar petani pada Maret 2026.
"Sedangkan subsektor hortikultura, peternakan, dan perikanan mengalami kenaikan nilai tukar petani," ucap Wahyudin.
Baca juga: Lowongan besar! BPS butuh 5.000 petugas sensus di NTB
Lebih lanjut ia memaparkan beberapa komoditas yang mendorong kenaikan indeks harga yang diterima petani antara lain cabai rawit, tomat, ayam ras pedaging, bawang merah, dan ikan teri.
Sementara itu, komoditas utama penyumbang kenaikan harga yang dibayar petani Nusa Tenggara Barat di antaranya cabai rawit, tongkol, bawang merah, bensin, dan kangkung.
"Kita perlu melihat nilai tukar petani apakah di atas 100 atau di bawah 100. Kalau nilainya di atas 100, artinya petani masih mendapatkan untung," pungkas Wahyudin.
Baca juga: Menteri Pertanian ingin Sumbawa jadi sentra industri hilir jagung dan sapi
Baca juga: Produksi padi di Lombok Tengah capai 237 ton
Baca juga: Polda NTB panen raya jagung jaga ketahanan pangan
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026