Mataram (ANTARA) - Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menyebutkan, korsleting listrik dan kompor gas masih menjadi pemicu utama bencana kebakaran di Kota Mataram.

"Rata-rata penyebab peristiwa kebakaran yang terjadi belakangan ini didominasi oleh faktor kelalaian dan masalah instalasi listrik dan kompor gas," kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Mataram Rudi Suryawan di Mataram, Senin.

Berdasarkan data triwulan pertama Januari-Maret 2026, bencana kebakaran yang terjadi sebanyak 23 kali, dan rata-rata dipicu karena korsleting listrik dan ada juga karena kompor gas.

Korsleting listrik dan ledakan kompor gas menjadi pemicu utama di sebagian besar kasus kebakaran. Bahkan, insiden kebakaran besar yang terjadi di wilayah Ampenan yakni kebakaran gudang penjualan oli beberapa waktu lalu juga disinyalir kuat akibat korsleting listrik.

"Saat ini pihak aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih mendalam untuk memastikan penyebab pastinya," katanya.

Hal serupa juga diduga menjadi penyebab kebakaran yang menimpa salah satu dapur makan bergizi gratis (MBG) di Jalan Panjitilar, Kota Mataram.

Terkait dengan itu, pihaknya mengimbau masyarakat agar selalu waspada ketika beraktivitas dengan menggunakan listrik dan gas, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Di sisi lain, sebagai langkah mitigasi, Pemerintah Kota Mataram telah memperketat regulasi bagi perusahaan dan bangunan komersial agar setiap gedung diwajibkan memiliki alat pemadam api ringan (APAR) sebagai salah satu syarat mutlak dalam pengurusan persetujuan bangunan gedung (PBG) .

Baca juga: Damkarmat Mataram mengusulkan tambahan personel tingkatkan kesiagaan

"Kewajiban kami selaku pemerintah melakukan pengecekan. Kami sudah menyurati beberapa perusahaan dan perbankan yang memiliki gedung tinggi untuk memastikan kesiapan alat proteksi kebakaran mereka demi keamanan pengguna gedung," katanya.

Di sisi lain, selain penyediaan alat, kesadaran akan penanganan dini juga mulai meningkat. Tercatat beberapa instansi besar seperti Rumah Sakit Bhayangkara dan Kejaksaan Tinggi telah melakukan pelatihan pemadaman api bersama tim Damkarmat.

Pelatihan dimaksudkan agar pihak internal gedung memiliki respons cepat sebelum api menyebar luas. Penanganan awal bisa dilakukan dengan menggunakan karung basah atau APAR (alat pemadam api ringan).

Baca juga: Siaga penuh! Damkar Mataram turunkan armada di lokasi Lebaran Topat

Namun diakuinya, faktor kepanikan warga yang seringkali menjadi kendala.

"Seringkali karena panik, warga hanya berteriak minta tolong tapi lupa mengambil tindakan awal seperti menggunakan karung atau APAR yang tersedia," katanya.

Selain mencatat 23 bencana kebakaran selama triwulan pertama tahun 2026, tambahnya, tim Damkarmat Mataram juga telah melakukan 95 kali penanganan non kebakaran atau penyelamatan.

Mulai dari penyelamatan atau evakuasi sarang tawon, ular, biawak, dan binatang melata lainnya.

"Kami juga sudah melaksanakan 11 kali penyuluhan sebagai langkah preventif penanganan kebakaran," katanya.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026