"Kami berkolaborasi dengan kampus, sekolah, dan lembaga lainnya untuk mengunjungi Pusat Informasi Geologi, berwisata sejarah sekaligus belajar tentang keragaman geologi, hayati, dan budaya, termasuk mengenal jejak letusan Gunung Tambora,"

Bima (ANTARA) - Geopark Tambora berkolaborasi dengan Universitas Nggusu Waru (Unswa) dan Politeknik AMA mengajak mahasiswa mengunjungi Pusat Informasi Geologi (PIG) di Desa Panda, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, Kamis (16/4), sebagai upaya memperkuat edukasi geologi, sejarah, dan konservasi lingkungan.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program edukasi Geopark Tambora yang mendorong generasi muda memahami kekayaan geologi, hayati, dan budaya kawasan Tambora, sekaligus menumbuhkan kesadaran pelestarian lingkungan berbasis pengetahuan.

Manajer Pendidikan dan Kebudayaan Geopark Tambora, Baharudin kepada ANTARA, Jumat, mengatakan kegiatan itu dirancang tidak sekadar sebagai wisata, tetapi sebagai sarana pembelajaran tentang jejak letusan Gunung Tambora dan keragaman geosite yang dimiliki kawasan tersebut.

"Kami berkolaborasi dengan kampus, sekolah, dan lembaga lainnya untuk mengunjungi Pusat Informasi Geologi, berwisata sejarah sekaligus belajar tentang keragaman geologi, hayati, dan budaya, termasuk mengenal jejak letusan Gunung Tambora," ujarnya.

Ia menegaskan, kunjungan ke PIG memiliki nilai penting bagi mahasiswa untuk memahami sejarah dan peradaban lokal secara komprehensif.

"Ke PIG bukan sekadar jalan-jalan, tetapi belajar tentang sejarah peradaban di tanah Tambora. Informasi yang disajikan sangat kaya dan edukatif," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bima, Muh. Chandra Kusuma, menyampaikan bahwa pengelolaan PIG saat ini masih berada di bawah satu manajemen dengan dinas yang dipimpinnya.

"Kedepan kami akan menjalankan manajemen yang lebih profesional dan mandiri. Perpustakaan dan PIG diharapkan menjadi pusat informasi, literasi, sekaligus tempat edukasi dan riset bagi masyarakat Kabupaten Bima," ujarnya.

Namun demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala, terutama terkait sumber daya manusia dan operasional.

"Saat ini PIG memiliki dua operator yang masih membutuhkan pelatihan profesional. Selain itu, kendala operasional seperti beban listrik yang cukup besar membuat kami belum dapat menetapkan jadwal kunjungan secara rutin," katanya.

Dari kalangan akademisi, perwakilan Universitas Nggusu Waru, Mansyur, menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan Geopark Tambora perlu terus diperkuat guna meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap sejarah dan lingkungan.

"Kunjungan ke PIG menjadi salah satu upaya meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap sejarah dan potensi daerah,” ujarnya.

Sementara itu, mahasiswa Politeknik AMA, Anisyah Ainu Rahma, mengaku kunjungan tersebut menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap Gunung Tambora.

"Setelah melihat dokumentasi letusan Gunung Tambora, kami jadi tertarik untuk mempelajari lebih jauh, bahkan ingin berkunjung langsung ke lokasi," katanya.

Pusat Informasi Geologi (PIG) sendiri berada dalam satu kompleks dengan Gedung Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Bima, dan menjadi salah satu sarana edukasi penting dalam mendukung pengembangan Geopark Tambora sebagai kawasan konservasi berbasis pengetahuan dan pariwisata berkelanjutan.
 



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026