Mataram (ANTARA) - Dinas Pariwisata Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, memaksimalkan potensi wisatawan lokal dengan memperbanyak agenda agar pergerakan dan tingkat kunjungan wisatawan ke kota itu tetap terjaga di tengah efisiensi.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram Cahya Samudra di Mataram, Kamis mengatakan, salah satu strategi yang dilakukan adalah menghidupkan ruang publik sebagai pusat aktivitas baru seperti kawasan Teras Udayana menjadi lokasi yang dioptimalkan melalui berbagai kegiatan kolaboratif.
"Kami ingin ruang publik seperti Teras Udayana menjadi magnet baru bagi masyarakat dan wisatawan," katanya.
Langkah itu dilakukan karena melihat kondisi sektor pariwisata di Kota Mataram mulai melemah di awal 2026.
Penurunan kunjungan wisatawan dipicu kombinasi musim sepi tahunan, tingginya harga avtur berimbas pada penyesuaian harga tiket pesawat, serta kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berdampak luas hingga ke daerah.
Namun demikian, Dinas Pariwisata Kota Mataram tidak tinggal diam sehingga berbagai langkah sudah disiapkan untuk menjaga pergerakan wisatawan, khususnya dari dalam negeri dengan memaksimalkan potensi lokal.
Apalagi tahun 2026, Dispar Kota Mataram menargetkan sekitar 300 ribu kunjungan wisatawan ke Kota Mataram.
Baca juga: Dispar Mataram segel lapak PKL tak bayar retribusi sewa
Karena itu, selain mengoptimalkan berbagai kegiatan di ruang publik Dispar juga menggandeng sektor perbankan untuk menghadirkan program "Mataram Friday Relax" yang digelar rutin setiap dua pekan sekali.
"Program itu kami siapkan sebagai wadah hiburan dan ruang santai bagi masyarakat. Harapannya, daya tarik wisata Mataram tetap terjaga meskipun tantangan cukup berat," katanya.
Lebih jauh Cahya mengakui, penyesuaian harga tiket pesawat dan efisiensi secara nasional memberi tekanan serius bagi industri perhotelan.
Situasi tersebut juga menjadi keluhan utama para pelaku usaha hotel yang dampaknya langsung terasa pada tingkat hunian yang ikut merosot.
Selain faktor transportasi, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah turut memperburuk kondisi. Selama ini, aktivitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) menjadi penopang utama okupansi hotel di Mataram.
Baca juga: Dispar Lombok Tengah menyusun regulasi tata kelola objek wisata
Namun kini, kegiatan seperti seminar nasional dan rapat koordinasi mengalami penurunan tajam.
Namun demikian, pihaknya belum merinci angka pasti penurunan okupansi hotel karena saat ini pendataan masih terus dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih akurat.
"Untuk angka penurunan kunjungan, masih kami hitung secara detail. Jadi belum bisa menyampaikan angka pasti penurunannya," katanya menambahkan.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026