Dompu (ANTARA) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tambora tercatat sebanyak 15 kejadian hingga 20 April 2026 dengan luas terdampak mencapai sekitar 180,61 hektare.
Kepala Balai TN Tambora, Abdul Azis Bakry, mengatakan angka tersebut masih tergolong terkendali, meskipun potensi peningkatan tetap tinggi seiring prediksi musim kemarau yang lebih kering dan berkepanjangan dari BMKG.
"Potensi karhutla tetap perlu diwaspadai karena kondisi iklim tahun ini cenderung lebih kering," ujarnya, Jumat.
Berdasarkan data, menunjukkan tren fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023 tercatat 126 kejadian dengan luas 6.810,5 hektare, kemudian pada 2024 sebanyak 118 kejadian dengan luas 16.431,29 hektare, dan menurun pada 2025 menjadi 30 kejadian dengan luas 2.891,39 hektare.
Baca juga: Pulihkan ekosistem, Taman Nasional Tambora siapkan 10.000 bibit kemiri
Berdasarkan analisis lapangan, kebakaran di kawasan konservasi tersebut masih didominasi faktor aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan, penggembalaan ternak, perburuan ilegal, dan pemanenan madu hutan.
"Kondisi ini, menunjukkan perlunya penguatan upaya pencegahan yang tidak hanya berbasis teknis, tetapi juga melalui pendekatan sosial, termasuk edukasi dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan," katanya.
Baca juga: Pemprov NTB siaga cuaca ekstrem, Komando Terpadu dikerahkan
Dalam upaya antisipasi dini, TN Tambora mengikuti rapat koordinasi melalui video conference yang digelar Polda NTB bersama sejumlah pemangku kepentingan, termasuk BPBD Kabupaten Dompu dan instansi terkait lainnya.
Pewarta : Ady Ardiansah
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026