"Jadi umur saya saya habiskan di perantauan daripada di kampung halaman. Karena itu saya merasa sudah selesai. Sebagai diplomat saya sudah pernah menjadi Dubes. Sebagai ASN sudah eselon satu dua kali, apalagi yang saya kejar,"

Mataram (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal menceritakan adanya kemiskinan sempurna kepada alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sehingga pihaknya meminta doa agar bisa melakukan sesuatu kepada kelompok tersebut.

Iqbal mengemukakan hal itu saat menghadiri Reuni dan Silaturahmi Alumni UMY di Museum NTB, Minggu, yang turut dihadiri Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) NTB, Dr. H. Falahuddin, M.Ag, Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan, SSos MSi, Kepala Nuseum NTB, Dr Ahmad Nuralam, SH MH dan sejumlah pejabat lainnya.

"Masyarakat kita yang hidup dalam kemiskinan. Dari 12 persen itu, ada dua persen miskin ekstrim. Dalam angka itu 114 ribu KK yang miskin ekstrim. Dari 114 ribu KK yang miskin ekstrim itu, ada 30 persen itu adalah miskinnya sempurna," katanya.

Miskin sempurna tersebut, ujar Iqbal, yang sudah tidak bisa lagi diberdayakan. 

"Ini temuan saya ketika saya turun ke lapangan dua sampai tiga bulan terakhir ini. Dari 40 desa yang menjadi objek utama dari yang namanya desa berdaya transformatif, yang dalam secara teoretis dulu saya jadi diplomat itu, buat saya itu kemiskinan itu adalah angka. Setelah saya turun, saya sadar bahwa kemiskinan itu real di lapangan," katanya.

Dia mengatakan ada 40 desa yang ditetapkan sebagai desa berdaya transformatif, meliputi sekitar 7.000 KK kemiskinan ekstrim. 

"Setelah kita turun, ada 30 persen yang kemiskinannya sempurna. Apa maksudnya? Dulu bayangan kita, orang miskin ini, kalau kita selesaikan perlindungan sosialnya, kemudian yang lain-lainnya selesai basic-basic, bayangan kita setelah itu kita akan berdayakan," katanya. 

Setelah itu, lanjut dia, mereka bisa mandiri, sehingga lepas dari kemungkinan. 

Reuni dan Silaturahmi Alumni UMY di Museum NTB, Minggu. (ANTARA FOTO/Agus Setiawan) (1)

"Setelah turun baru kita tahu ada nenek-nenek tidak punya suami, sakit-sakitan, rumah sudah tidak layak huni, tanah pun tidak punya, anak tidak punya," katanya.

Dia bercerita ada juga yang punya anak tetapi sudah jadi TKI, 4-5 tahun sudah menghilang sudah tidak ada kabar, entah masih hidup atau sudah mati, sementara cucunya ditinggal sama neneknya. 

"Ini adalah kemiskinan yang sempurna, yang tidak mungkin lagi kita berdayakan. Apapun yang kita akan lakukan, kita nggak bisa berdayakan orang-orang ini karena kondisinya memang sudah tidak mungkin. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah kita menjamin kehidupan dia sampai dia mati," katanya.

Iqbal sampai memperkenalkan satu istilah baru ke BAZNAS yang diajak dengan menetapkan sebagai mustahiq tetap dengan menerima santunan dari Lembaga ini setiap bulan di luar PKH.

Alumni UMY

Pada kesempatan yang sama alumni Fisipol Hubungan Internasional UMY ini juga menyatakan terima kasih kepada alumni UMY yang selama ini terus menerus memberikan dukungan (support). 

"Ada yang support dengan memilih, support dengan mendoakan, ada yang support dengan menyumbang. Ada yang support segala macam kepada kami yang itu terus terang mengharukan," katanya.

Dia mengatakan baginya pulang kampung menang menjadi gubernur itu suatu keajaiban. "Cuma modal niat. Saya percaya Ketika kita punya niat baik. Di situ Tuhan membukakan jalan," katanya.

Iqbal mengatakan dirinya merantau mulai 1987 saat usia 14 tahun.

"Jadi umur saya saya habiskan di perantauan daripada di kampung halaman. Karena itu saya merasa sudah selesai. Sebagai diplomat saya sudah pernah menjadi Dubes. Sebagai ASN sudah eselon satu dua kali, apalagi yang saya kejar," katanya.  

Iqbal menegaskan para alumni bukan hanya alumni UMY di NTB tetapi kita juga sama-sama warga NTB karena sama-sama punya kepentingan untuk melihat NTB lebih baik.
 



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026