Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat mengimbau masyarakat waspada terhadap gigitan anjing liar, sebagai langkah antisipasi penyakit rabies yang saat ini sudah terjadi di Pulau Sumbawa.
"Meskipun hingga saat ini Kota Mataram masih menyandang status bebas rabies, namun masyarakat harus tetap waspada," kata Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram Lalu Hapiludin di Mataram, Senin.
Terkait dengan hal itu, upaya perventif dengan melakukan pengawasan terhadap potensi penyebaran virus ini terus diperketat, terutama menyusul adanya laporan kasus gigitan hewan penular rabies (HPR).
Dia mengatakan hal tersebut menyikapi data dari Pemerintah Provinsi NTB yang menyebutkan sejak Januari-April 2026, tercatat 82 kasus rabies terjadi di Pulau Sumbawa, terutama Kabupaten Sumbawa dan Bima.
Untuk Kota Mataram, katanya, selama Januari-April belum ada kasus gigitan anjing. Akan tetapi, pada 2025 terdapat 90 kasus gigitan anjing yang ditangani sejumlah puskesmas di Kota Mataram. Namun, setelah dilakukan observasi penanganan medis dan pengecekan laboratorium hasilnya negatif.
"Alhamdulillah dari 90 kasus gigitan anjing tahun 2025 tidak ada terindikasi rabies. Untuk tahun ini belum ada kasus gigitan," katanya.
Pemerintah Kota Mataram mengakui tantangan terbesar saat ini dalam pencegahan rabies yakni mengontrol populasi anjing liar.
Berbeda dengan anjing peliharaan yang relatif mudah dipantau dan diberikan vaksinasi oleh pemiliknya, katanya, anjing liar sulit dijangkau.
Baca juga: Kawanan anjing liar kembali menyerang pelajar di Lombok Timur
Beberapa kendala utama yang dihadapi petugas di lapangan, antara lain populasi anjing liar yang tinggi. Kondisi itu salah satunya dipicu banyaknya sampah di titik-titik tertentu sehingga memicu peningkatan populasi anjing liar.
Selain itu, proses penangkapan anjing liar untuk sterilisasi maupun vaksinasi dinilai cukup sulit, sedangkan upaya eliminasi sudah tidak dibolehkan.
"Saat ini kami tidak diperbolehkan melakukan eliminasi (pemusnahan) anjing liar secara sembarangan, sehingga sterilisasi menjadi jalan keluar yang sedang diupayakan meski penuh tantangan," katanya.
Terkait dengan hal itu, pihaknya mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak panik ketika melihat anjing menjadi agresif dalam kondisi tertentu.
Baca juga: Dinas Keswan Lombok Timur buru anjing liar yang menelan korban jiwa
Misalnya, katanya, jika hewan tersebut sedang dalam masa beranak atau menyusui, karena mereka cenderung lebih protektif dan mudah menggigit jika merasa terganggu.
Jika masyarakat mengalami gigitan, dia meminta masyarakat segera datang puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat agar bisa segera ditangani dan mendapatkan vaksinasi anti rabies (VAR).
"Kami juga terus berkoordinasi dengan puskesmas untuk memantau setiap laporan gigitan dan memastikan tindakan VAR tersedia bagi warga yang membutuhkan sebagai langkah antisipasi dini," katanya.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026