"Untuk periode awal tahun 2026, sebanyak 20 ton beras cadangan pangan kami telah habis tersalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan,"

Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menyebutkan, sebanyak 20 ton beras cadangan pangan daerah Kota Mataram, di awal tahun 2026 sudah habis tersalurkan kepada masyarakat yang terdampak bencana dan membutuhkan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Mataram Sudirman di Mataram, Selasa, mengatakan, beras tersebut didistribusikan secara bertahap kepada warga yang terdampak bencana alam dan cuaca ekstrem, khususnya di wilayah Kecamatan Ampenan  dan Kecamatan Mataram.

"Untuk periode awal tahun 2026, sebanyak 20 ton beras cadangan pangan kami telah habis tersalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan," katanya. 

Berdasarkan data penyaluran terakhir, menurutnya, tercatat ribuan kepala keluarga (KK) telah menerima bantuan beras cadangan pangan dengan ketentuan satu KK mendapatkan 10 kilogram.

Untuk Kecamatan Ampenan total penerima sekitar 700 KK disalurkan dalam dua tahap masing-masing sebanyak 350 KK. Kecamatan Ampenan mendapatkan bantuan beras cadangan pangan itu karena ratusan warganya terdampak bencana abrasi pantai akibat gelombang pasang. 

Selain itu juga sebanyak 350 KK telah menerima bantuan serupa di Kecamatan Mataram, termasuk di Kecamatan Selapang, Cakranegara, Sandubaya, dan Kecamatan Ampenan dengan jumlah bervariasi bagi warga yang terdampak cuaca ekstrem seperti banjir rob, gelombang pasang, pohon tumbang, banjir, longsor, puting beliung, dan ada juga korban kebakaran.

"Dengan demikian, stok beras cadangan pangan kami yang ada di gudang saat ini sudah kosong tersalurkan semua pada periode Februari-Maret," katanya.

Dikatakan, sebanyak 20 ton beras cadangan pangan yang disalurkan itu merupakan stok beras pengadaan tahun 2025, sedangkan untuk tahun 2026 segera diusulkan untuk pengadaan. 

Jumlah pengadaan beras cadangan pangan tahun 2026, turun drastis dibandingkan tahun 2025. Di mana pengadaan beras cadangan pangan tahun 2025 sebanyak 20 ton, sedangkan tahun 2026 hanya 3 ton dengan anggaran Rp20 juta dengan target sasaran dari pengadaan itu diperkirakan dapat menjangkau sekitar 300 KK.

"Kondisi itu terjadi karena adanya kebijakan efisiensi anggaran," katanya.
 
Sudirman mengatakan, meskipun jumlah pengadaan tahun ini menurun signifikan dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 20 ton, namun jika terjadi situasi darurat di tengah tahun, pemerintah akan mengusulkan tambahan anggaran melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) 2026 Kota Mataram.

Sementara untuk mengantisipasi potensi bencana sebelum pengadaan triwulan kedua yakni bulan Juni-Juli 2026, Dinas Ketahanan Pangan akan menjalin kerja sama dengan Bulog.

"Jika ada bencana sebelum pengadaan stok baru tersedia, kami akan meminta dukungan dari Bulog sebagai langkah antisipasi, kemudian diganti saat beras cadangan pangan tersedia," katanya.

Adapun mekanisme pencairan bantuan beras cadangan daerah, tambahnya, harus melalui prosedur yang ketat, yakni berdasarkan data langsung dari lingkungan yang diusulkan melalui kelurahan, kecamatan, hingga mendapatkan persetujuan dari Dewan Pangan.

"Setelah itu, barulah dikeluarkan surat keputusan (SK) persetujuan dari Wali Kota Mataram," katanya.

Diharapkan, bantuan beras cadangan pangan bagi masyarakat yang menjadi korban bencana bisa membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari.



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026