"Sampah masuk ke TPA Kebon Kongok hanya 450 ton per hari. Sedangkan, investor membutuhkan sebanyak 1.000 ton sampah per hari,"

Mataram (ANTARA) - Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan volume sampah yang tersedia saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan minimal imvestor pembangkit listrik tenaga sampah atau PLTSa.

Kepala DPMPTSP NTB Irnadi Kusuma mengatakan keterbatasan timbulan sampah tersebut menjadi kendala dalam rencana pengembangan PLTSa di TPA Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat.

"Sampah masuk ke TPA Kebon Kongok hanya 450 ton per hari. Sedangkan, investor membutuhkan sebanyak 1.000 ton sampah per hari," ujar dia di Mataram, Selasa.

TPA Kebon Kongok merupakan kawasan pembuangan akhir regional yang beroperasi dengan sistem open dumping atau tempat penampungan akhir terbuka sejak tahun 1993 sampai hari ini.

TPA Kebon Kongok menggunakan metode sanitary landfill untuk mengelola timbulan sampah yang datang setiap hari dari Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Sampah organik mendominasi hingga 60 persen timbulan sampah di kawasan tersebut.

Irnadi menyampaikan potensi pemenuhan kebutuhan bahan baku sebenarnya bisa tercapai jika timbulan sampah dari sejumlah daerah di Pulau Lombok digabungkan, seperti dari Lombok Timur, Lombok Utara, dan Lombok Tengah.

Menurut dia, jika seluruh sampah dari Pulau Lombok dikumpulkan ke TPA Kebon Kongok berdampak terhadap kenaikan beban operasional bahan bakar dan pengangkutan sampah.

"Operasional untuk membawa sampah ke satu tempat belum bisa," ucap Irnadi.

DPMPTSP NTB menegaskan tetap berupaya menarik minat investor dengan mendorong berbagai potensi energi terbarukan lain di Nusa Tenggara Barat.

Selain PLTSa, investor juga mulai melirik potensi energi terbarukan lain salah satunya melalui pengembangan energi berbasis angin yang dilakukan PT Berkah Energi Lombok (BEL) di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.

Proyek tersebut masih dalam tahap awal karena perusahaan masih melakukan penelitian terkait kekuatan angin sebagai dasar pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB).

"Perusahaan itu berkomitmen menanamkan modal hampir Rp400 miliar," pungkas Irnadi.



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026