Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) memperkuat dokumen usulan Geopark Tambora menjadi bagian dari jaringan geopark dunia atau UNESCO Global Geopark (UGG).

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB Baiq Nelly Yuniarti mengatakan saat ini fokus Pemerintah Provinsi (Pemprov) adalah memastikan geopark Tambora mendapat pengakuan geopark dunia.

"Setelah geopark Rinjani mendapatkan pengakuan oleh UNESCO. Fokus kita sekarang adalah memastikan Tambora juga diakui dalam jaringan geopark dunia," ujar dia di Kantor Gubernur NTB di Mataram, Kamis.

Menurut Nelly, untuk memastikan usulan geopark Tambora masuk dalam jaringan UGG, Bappeda tengah menyiapkan narasi tertulis untuk mendukung pengajuan tersebut.

"Tim sedang memproses Tambora agar NTB memiliki dua geopark besar yang diakui dan dapat diapresiasi secara internasional," kata Nelly

Selain menyiapkan narasi tertulis, langkah berikutnya adalah penerbitan sertifikat resmi untuk pengakuan dan penggunaan sertifikat untuk promosi internasional.

"Harapan ke depan dengan mendapatkan sertifikat, Tambora mendapat pengakuan dunia, sehingga NTB memiliki dua geopark UNESCO," katanya.

Baca juga: Geopark Tambora ajak mahasiswa kunjungi PIG untuk perkuat edukasi geologi

Tambora sudah masuk dalam Geopark Nasional. Bahkan, Gunung Tambora oleh Pemerintah Provinsi NTB ditetapkan ke dalam kawasan Samota (Saleh, Moyo, Tambora).

Gunung Tambora, berlokasi di Pulau Sumbawa, NTB. Gunung tersebut merupakan gunung berapi aktif dengan ketinggian 2.851 meter di atas permukaan laut (mdpl), terkenal karena letusan dahsyatnya tahun 1815 yang membentuk kaldera berdiameter 7 kilometer.

Gunung itu merupakan destinasi pendakian populer, pusat studi geologi, dan situs sejarah/ekologi di bawah Taman Nasional Tambora.

Baca juga: TN Tambora Siapkan Jungle Run 2026 untuk Genjot Sport Tourism

Sebelumnya Geopark Rinjani-Lombok berhasil mempertahankan status UNESCO Global Geopark dengan meraih Kartu Hijau atau Green Card kedua kalinya dalam proses revalidasi internasional yang berlangsung di Markas Besar UNESCO di Paris, Prancis, pada 28 April 2026.

General Manager Geopark Rinjani Qwadru Putro Wicaksono mengatakan mempertahankan status tersebut jauh lebih menantang ketimbang meraih untuk pertama kali.

"Kartu hijau kedua itu adalah pengakuan dunia atas kerja keras kolektif seluruh pemangku kepentingan di NTB," ujar dia.

Qwadru mengatakan keberhasilan mempertahankan status menjadi bukti bahwa tata kelola Geopark Rinjani-Lombok tetap memenuhi standar global dalam aspek konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.


 

Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026