"Program GEF-8 ini bertujuan mentransformasi sistem peternakan menjadi lebih produktif, berdaya saing, serta ramah lingkungan,"
Dompu (ANTARA) - Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, menjadi salah satu daerah penerima hibah internasional melalui program Global Environment Facility (GEF) tahap 8 yang difasilitasi Food and Agriculture Organization (FAO) untuk mendorong transformasi sektor peternakan menuju skala yang lebih maju dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Dompu, Ilham kepada ANTARA, Kamis, mengatakan program tersebut merupakan proyek multiyear selama enam tahun, yakni 2026 hingga 2031.
"Program GEF-8 ini bertujuan mentransformasi sistem peternakan menjadi lebih produktif, berdaya saing, serta ramah lingkungan," ujarnya.
Ia menjelaskan, Dompu menjadi satu dari lima daerah di Indonesia yang terpilih menerima pendanaan bersama Kabupaten Sumbawa, Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.
Menurut Ilham, masuknya dua wilayah dari Pulau Sumbawa dalam program tersebut menunjukkan bahwa Nusa Tenggara Barat kini dipandang sebagai salah satu pusat pertumbuhan peternakan nasional yang memiliki nilai strategis di tingkat global.
Program GEF-8 FSIP Livestock yang dijalankan Kementerian Pertanian Republik Indonesia bersama FAO itu memiliki nilai anggaran sekitar 12 hingga 13 juta dolar AS atau setara Rp180 miliar sampai Rp200 miliar.
Ia menyebutkan, terdapat lima fokus utama intervensi dalam program tersebut, yakni peningkatan kualitas genetik melalui budidaya pemuliaan, penguatan agribisnis peternakan, peningkatan kesehatan ternak, perbaikan sistem distribusi, serta penguatan kelembagaan peternak.
"Pendekatan ini diarahkan untuk mengubah pola peternakan dari sekadar aktivitas pemeliharaan menjadi usaha ekonomi berbasis bisnis yang berkelanjutan," katanya.
Pada tahun pertama pelaksanaan, lanjut Ilham, program akan difokuskan pada penguatan sumber daya manusia (SDM), baik peternak maupun tenaga teknis di lapangan, agar siap mengadopsi teknologi dan sistem yang diperkenalkan.
Tim ahli FAO dijadwalkan melakukan kunjungan ke Dompu pada pekan kedua Mei 2026 untuk memetakan potensi riil di lapangan, sebelum kegiatan awal dimulai pada Juni 2026.
Ia berharap, melalui program tersebut, Dompu tidak lagi hanya menjadi pemasok ternak hidup, tetapi mampu membangun ekosistem peternakan terintegrasi yang memberikan nilai tambah dan berorientasi ekspor.
"Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas peternak secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat lingkungan yang nyata," ujarnya.
Dengan intervensi tersebut, sektor peternakan Dompu diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menjawab tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Pewarta : Ady Ardiansah
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026