Mataram (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, telah melakukan antisipasi terhadap dampak fenomena El Nino Gozila bagi para pembudidaya ikan air tawar di kota itu.
"Antisipasi kami lakukan untuk memastikan kebutuhan air untuk para petani budi daya ikan air tawar tetap tersedia hingga puncak kemarau," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Mataram H Bachtiar Yulianto di Mataram, Kamis.
Hal tersebut dilakukan karena adanya prediksi tahun 2026 akan terjadi El Nino Gozila atau kemarau panjang, yang dapat memicu kekurangan air bagi puluhan kelompok tani budi daya ikan air tawar di Kota Mataram.
Guna menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino Gozila yang diprediksi mencapai puncaknya pada periode Mei hingga Agustus, ia mengatakan DKP mulai menyiapkan langkah antisipasi bagi para pembudidaya ikan darat, meskipun tantangan cuaca membayangi, stok air untuk kebutuhan budidaya saat ini dinilai masih mencukupi.
Pihaknya kini terus memantau ketersediaan air baku dan dia optimis dampak kekeringan tahun ini tidak akan mencapai titik ekstrem karena adanya fenomena "kemarau basah", di mana hujan masih sesekali turun meski sudah memasuki musim kemarau.
Untuk menjaga keberlangsungan budi daya, DKP Kota Mataram telah menyiapkan beberapa langkah strategis antara lain, memberikan saran kepada petani untuk mengatur pembagian air secara lebih adil dan merata.
Melakukan koordinasi ketat dalam pengaturan pintu-pintu air di kawasan budi daya, serta menjalin kerja sama dengan Dinas Pertanian untuk memastikan manajemen air berjalan efektif bagi sektor perikanan dan pertanian.
Baca juga: TPID Mataram diminta meningkatkan pengawasan distribusi bahan pokok
"Melalui langkah-langkah tersebut, kami optimistis ketersediaan air bagi petani budi daya ikan air tawar di Kota Mataram terpenuhi selama musim kemarau," katanya.
Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, meskipun terjadi penurunan debit air saat puncak kemarau, tapi kebutuhan air untuk kolam-kolam budidaya ikan masih terpenuhi.
Kondisi itu didukung salah satunya karena Kota Mataram berada di wilayah hilir sehingga menguntungkan bagi para petani budi daya bahkan ketika terjadi puncak kemarau.
Baca juga: Dishub-DLH siapkan kerja sama olah limbah kotoran kuda jadi biogas
Di sisi lain, DKP Kota Mataram juga aktif menurunkan penyuluh selain memberikan pembinaan dan pendampingan juga memastikan ketersediaan air budi daya tercukupi saat puncak musim kemarau.
Penyuluh akan memastikan sumber-sumber aliran air untuk kebutuhan sekitar 97 kelompok budidaya ikan air tawar jenis nila, lele, patin, dan ikan bawal agar tidak terjadi kekurangan yang bisa berdampak pada usaha mereka.
"Alhamdulillah sejauh ini belum ada laporan dari penyuluh maupun kelompok budi daya ikan air tawar yang tidak mendapatkan air untuk kolam budi daya mereka," katanya.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026