Mataram (ANTARA) - Seorang sejarawan, Eric Hobsbawm, dalam bukunya "Age of Extremes : The Short 20th Century 1914–91", secara keras mengingatkan bahwa sistem sosial, ekonomi, dan politik yang melegitimasi kemiskinan ekstrem harus dikutuk.
Telaah dan berbagai antipati terhadap sistem sosial politik yang cenderung membiarkan isu kemiskinan disebut sebagai bentuk represi terselubung.
Kemiskinan adalah kontributor pada berbagai siklus negatif pembangunan dan sistem sosial. Bersifat multidimensi yang mencakup isu-isu konsumsi, moneter, pendidikan hingga kesehatan.
Angka kemiskinan di NTB selama ini selalu pada angka dua digit (miskin absolut) dan berkisar dua hingga empat persen untuk miskin ekstrem.
Sekian dekade, angka-angka tersebut "duduk manis" pada rangking posisi tersebut dan menyebabkan NTB selalu berada pada posisi provinsi termiskin.
Ini tak sejalan dengan sumber daya yang dimiliki daerah ini. Ada apa?
NTB butuh keseriusan memerangi dan menekan kemiskinan. Karena itu, penting untuk dibuat sebuah pendekatan pemodelan untuk memberantas kemiskinan.
Desa Berdaya adalah sebuah gerakan dan pemodelan pemberantasan kemiskinan berkelanjutan dengan pendekatan graduasi dan pola coaching ketat hingga dua tahun bagi kepala keluarga miskin ekstrem dengan model desa berdaya transformatif dan pemodelan bantuan bagi kelembagaan desa pada model desa berdaya tematik.
Pemodelan desa berdaya adalah pendidikan politik yang mendidik aksi anti kemiskinan, inisiatif lokal yang merupakan pemodelan gerakan dari lokal provinsi, kota/kabupaten, desa.
Platform peningkatan kesadaran akan pentingnya kemandirian sosial dan ekonomi.
Praktek berkelanjutan (sustainable system) dalam upaya menekan angka kemiskinan.
Pendekatan isu mikro dalam penataan keuangan masyarakat miskin menuju aksi keluar dari kemiskinan ekstrem dan menekan angka miskin absolut.
Aksi kolaboratif yang bersifat konvergensi adalah sebuah bentuk kesadaran akan kesalahan selama ini dalam pemberantasan kemiskinan yang cenderung bersifat sektoral, tidak berkelanjutan, dan sendiri-sendiri.
COPYRIGHT © ANTARA 2026