Mataram (ANTARA) - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk siap membangun 14 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna mendukung kelancaran pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) di Nusa Tenggara Barat.

Komisaris Independen PT Krakatau Steel (Persero) Tbk H Willgo Zainar, mengatakan pembangunan SPPG menjadi bagian dari upaya memperluas pemerataan layanan pemenuhan gizi sekaligus mendukung pelaksanaan program MBG yang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

"Untuk pembangunan SPPG di daerah terpencil, kemarin sudah dilakukan launching SPPG di KLU. Di Lombok Utara ada enam titik yang siap dilakukan penilaian dan appraisal oleh pusat, sementara secara fisik dan perlengkapannya sudah siap," katanya.

Menurutnya, pembangunan SPPG yang difokuskan pada kawasan terpencil diharapkan dapat membantu pemerintah menekan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas gizi masyarakat di wilayah kepulauan dan pedesaan.

Willgo menjelaskan keberadaan SPPG tidak hanya berfungsi sebagai pusat layanan pemenuhan gizi, tetapi juga dirancang untuk menggerakkan ekonomi desa melalui pelibatan masyarakat lokal dalam rantai pasok bahan pangan.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) NTB itu menambahkan kebutuhan operasional dapur SPPG nantinya akan menyerap berbagai hasil produksi masyarakat, mulai dari sayur-mayur, padi, ikan, ternak ayam, hingga buah-buahan hasil perkebunan warga.

"Produk pertanian dan perikanan masyarakat sekitar diharapkan bisa terserap sehingga menjadi penggerak ekonomi desa," ujarnya.

Selain itu, kata dia, Krakatau Steel juga mendorong kolaborasi seluruh SPPG dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih guna memperkuat sistem distribusi dan rantai pasok pangan di daerah.

Sebagai perusahaan BUMN, lanjutnya, Krakatau Steel memiliki tanggung jawab mendukung berbagai program prioritas pemerintah, termasuk pengembangan fasilitas pelayanan gizi di berbagai provinsi.

Baca juga: Uang beredar MBG di NTB mencapai Rp824 miliar per bulan

Menurut Willgo, pembangunan SPPG tidak hanya dilakukan di NTB, tetapi juga menyasar wilayah lain seperti Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara Timur.

"Launching dilakukan secara simbolis bersama beberapa daerah melalui zoom," ucap pria kelahiran Kota Mataram itu.

Ia menambahkan secara nasional Krakatau Steel menargetkan pembangunan sekitar 500 titik dapur SPPG secara bertahap. Sementara untuk wilayah NTB, saat ini terdapat sekitar 13 hingga 14 titik yang sedang dipersiapkan di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa.

Masing-masing SPPG di daerah 3T menyasar maksimal 1.000 orang penerima manfaat, di mana sasarannya meliputi siswa SD hingga SMA, ibu hamil, ibu menyusui, dan lanjut usia.

Baca juga: Kepala BGN meluncurkan SPPG modular daerah 3 T Lombok Utara

Selain meningkatkan layanan gizi masyarakat, pembangunan SPPG di daerah terpencil juga diproyeksikan membuka lapangan pekerjaan baru. Setiap unit dapur diperkirakan mampu menyerap sekitar 20 hingga 25 tenaga kerja lokal, khususnya lulusan SMA, SMK dan perguruan tinggi.

Willgo menilai program MBG menjadi peluang besar bagi sektor pertanian karena dapat menjadi pasar tetap atau off taker bagi hasil produksi petani dan pelaku UMKM pangan.

"Selama ini fokus lebih banyak pada peningkatan produksi pertanian, sedangkan aspek pasar belum optimal. Sekarang MBG ini menjadi off taker sehingga insan pertanian diharapkan ikut berperan aktif," katanya.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026