Mataram, NTB (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menempatkan Geopark Rinjani dan Tambora sebagai simpul utama pengembangan kebudayaan daerah dalam upaya memperkuat identitas budaya masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan pariwisata berbasis komunitas.

Kebijakan tersebut dinilai menjadi langkah strategis untuk menghubungkan kekayaan alam dan warisan budaya lokal agar mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan pendidikan secara berkelanjutan bagi masyarakat di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa.

Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan, mengatakan Geopark Rinjani dan Tambora kini tidak hanya dipandang sebagai kawasan konservasi alam dan destinasi wisata pendakian, melainkan bagian penting dari ekosistem kebudayaan NTB.

Menurut Ihwan, keberadaan taman bumi tersebut menyimpan nilai sejarah, tradisi, seni, hingga kearifan lokal masyarakat yang telah hidup turun-temurun di sekitar kawasan gunung. “Geopark Rinjani dan Tambora menjadi titik simpul bagian dari ekosistem kebudayaan NTB,” kata Ihwan.

Dia menjelaskan, pendekatan pengembangan geopark berbasis budaya menjadi peluang besar bagi NTB untuk memperkuat identitas daerah di tengah arus modernisasi dan perkembangan industri pariwisata global. Selama ini, citra wisata NTB lebih banyak dikenal melalui panorama alam dan wisata bahari. Padahal, desa-desa di sekitar kaki Gunung Rinjani maupun Gunung Tambora memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam dan unik.

Di kawasan lereng Gunung Rinjani, misalnya, masyarakat Sasak masih mempertahankan tradisi adat, ritual keagamaan, kesenian tradisional, hingga pola hidup berbasis alam. Sementara di Pulau Sumbawa, masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Tambora memiliki warisan budaya yang berkaitan erat dengan sejarah letusan Tambora tahun 1815, tradisi lokal, musik daerah, serta kerajinan khas masyarakat setempat.

Menurut Ihwan, seluruh potensi budaya tersebut dapat dikembangkan menjadi objek wisata edukatif dan atraksi budaya yang memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Wisata Berbasis Masyarakat

Desa-desa yang tersebar dari kaki Gunung Rinjani dan Tambora hingga wilayah pesisir di Lombok dan Sumbawa dinilai memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan wisata budaya berbasis masyarakat. Konsep ini diyakini mampu menciptakan pemerataan ekonomi karena masyarakat lokal menjadi pelaku utama dalam pengelolaan pariwisata.

Pemerintah NTB juga menilai pengembangan geopark berbasis budaya dapat membuka ruang lebih luas bagi generasi muda untuk kembali mengenal identitas budaya daerahnya. Selama ini, banyak tradisi lokal yang mulai tergerus perubahan zaman dan minim regenerasi pelaku seni budaya.

Dengan menjadikan geopark sebagai simpul kebudayaan, aktivitas seni tradisional, ritual adat, kuliner khas, hingga cerita rakyat dapat dihidupkan kembali melalui berbagai kegiatan wisata dan edukasi.

Selain memperkuat identitas budaya, pengakuan dunia terhadap Geopark Rinjani dan Tambora juga memberikan keuntungan besar bagi NTB. Status geopark internasional menjadi nilai tambah penting dalam meningkatkan daya saing daerah di sektor pariwisata global.

Pengakuan Dunia

Pengakuan dunia tersebut tidak hanya meningkatkan popularitas destinasi, tetapi juga membuka peluang kerja sama internasional di bidang konservasi, pendidikan, penelitian, dan pengembangan ekonomi kreatif masyarakat.

Dengan status yang diakui secara internasional, NTB memiliki peluang lebih besar menarik wisatawan berkualitas yang tertarik pada wisata alam, budaya, dan keberlanjutan lingkungan. Wisatawan jenis ini umumnya memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal dan memberikan dampak ekonomi lebih luas bagi masyarakat sekitar.

Keuntungan lainnya adalah meningkatnya peluang promosi budaya NTB di tingkat global. Berbagai produk budaya lokal seperti tenun tradisional, kuliner khas, pertunjukan seni, hingga tradisi adat dapat diperkenalkan kepada dunia sebagai bagian dari identitas kawasan geopark.

Pemerintah daerah berharap pengembangan geopark berbasis budaya mampu menciptakan efek berantai terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat desa. Kehadiran wisatawan akan membuka peluang usaha baru mulai dari homestay, pemandu wisata lokal, industri kerajinan, transportasi, hingga usaha kuliner tradisional.

Tidak hanya itu, konsep pariwisata berbasis masyarakat juga dinilai lebih berkelanjutan karena masyarakat menjadi pihak yang langsung menjaga kelestarian lingkungan dan budaya mereka sendiri.

Ihwan menegaskan bahwa pembangunan sektor pariwisata tidak boleh hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan semata, tetapi juga harus memperhatikan keberlanjutan budaya dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Karena itu, integrasi antara geopark dan kebudayaan menjadi strategi penting untuk memastikan bahwa kekayaan alam NTB tidak dieksploitasi secara berlebihan, melainkan dikelola dengan pendekatan edukatif dan partisipatif.

Pemerintah Provinsi NTB kini terus mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas budaya, pelaku wisata, akademisi, dan masyarakat desa dalam mengembangkan ekosistem geopark berbasis budaya tersebut.

Melalui langkah itu, NTB berharap Geopark Rinjani dan Tambora tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata alam kelas dunia, tetapi juga sebagai pusat peradaban budaya yang hidup, lestari, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026