Mataram (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat menyebutkan pemanfaatan gedung bank sampah di areal Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo, Ampenan menunggu TPST tersebut beroperasi.

"Bank sampah itu baru selesai dibangun pada tahun 2025, dan belum bisa langsung difungsikan karena masih menunggu proses pembangunan menyeluruh di kawasan TPST Kebon Talo," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram H Nizar Denny Cahyadi di Mataram, Senin.

Selain itu, katanya, kawasan tersebut saat ini juga masih berada dalam masa perawatan karena awal Juni 2026 proses pembangunan fisik TPST Kebon Talo dimulai.

"Jadi bank sampah itu memang belum bisa kami pakai selama proses pembangunan berjalan," katanya.

Ke depan, lanjut Denny, setelah beroperasi penuh TPST Kebon Talo difokuskan untuk mengolah dan memilah sampah plastik, termasuk berfungsi sebagai bank sampah induk.

Pembangunan TPST Kebon Talo dijadwalkan akan mulai dilaksanakan pada awal Juni 2026 dan diintegrasikan dalam satu kawasan.

Baca juga: TPST Kebon Talo Mataram akan dibangun olah sampah jadi RDF

Bank sampah salah satu fasilitas pendukung yang sudah ada saat ini merupakan salah satu syarat mutlak dari kementerian sebelum pembangunan utama TPST dapat direalisasikan.

"Tim dari kementerian terkait bahkan sudah turun ke lapangan untuk meninjau kesiapan lokasi tersebut," katanya.

Dalam konsepnya, kata Denny, TPST Kebon Talo Ampenan akan mengolah sampah menjadi RDF atau "refuse derived fuel" yakni bahan bakar alternatif sejenis briket dan bisa jual ke PLN sebagai bahan bakar pendamping pembangkit listrik.

Saat ini proyek tersebut sedang dalam proses tender yang ditargetkan selesai pada 29 Mei 2026. Adapun proses pembangunan fisik direncanakan mulai berjalan pada 9 Juni 2026 dengan total nilai anggaran mencapai Rp97 miliar yang bersumber dari pemerintah pusat.

Baca juga: KLH segera memanggil pengelola TPTS Bantargebang respons longsor sampah

Pembangunan TPST Kebon Talo diharapkan rampung pada Desember 2026 sehingga dapat beroperasi penuh mulai tahun 2027.

Proyek strategis yang bertujuan untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat itu menerapkan teknologi pengolahan sampah modern dengan menggunakan teknologi "dry jet" dan menghasilkan RDF.

Melalui proses tersebut, setelah sampah dipilah antara sampah organik dan anorganik, sampah akan dikeringkan dan diproses melalui pemanasan, bukan pembakaran seperti insinerator biasa untuk menghasilkan RDF atau bahan bakar alternatif.

"Kapasitas pengolahan di TPST Kebon Talo kami proyeksikan mencapai 60 hingga 70 ton per hari. Jumlah itu, tentu bisa berdampak pada pengurangan pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Lombok Barat," katanya.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026