Mataram (ANTARA) - Cinta selalu memiliki tempat Istimewa dalam kehidupan manusia. Ia hadir dalam puisi, lagu, cerita, bahkan tak jarang menjadi tema dominan dalam mimbar-mimbar dakwah. Belakangan ini, tema seperti perjodohan, ta'aruf, hingga nikah muda menjadi topik yang paling menarik perhatian kaum muda-mudi di Indonesia, dibanding topik yang membahas tentang akidah, fiqih, atau pembentukan akhlak.
Di titik ini, muncul pertanyaan yang layak untuk sama-sama kita renungkan: apakah dakwah benar-benar mendekat kepada umat, atau justru hanya sekadar mengikuti selera pasar?
Tentu tidak ada yang keliru ketika agama berbicara tentang cinta. Islam tidak pernah menafikan fitrah manusia. Namun persoalannya muncul ketika pembahasan tentang romansa percintaan mengambil porsi yang terlalu berlebihan, sementara tema-tema yang membahas tentang betapa luasnya mozaik keilmuan islam justru semakin jarang mendapat perhatian yang sama.
Bagi sebagian orang, kajian dengan tema romantisme memang bisa menjadi pintu gerbang seseorang untuk berhijrah. Akan tetapi hijrah seperti apa yang kita inginkan jika langkah masuknya saja lebih banyak diwarnai oleh bayang-bayang hasrat daripada bayangan tentang kedalaman ilmu?
Sebagian orang bahkan berkata, "biarkan saja mereka datang dulu, nanti masalah pemahaman dan kedalaman bisa menyusul." Namun, bila kita benar-benar menyadari fakta pada realita yang ada, berapa banyak orang yang hadir ke kajian karena cinta, lalu berapa banyak yang bertahan karena iman. Dan bila agama semakin dipersempit menjadi sebuah etika dalam ber-asmara saja, bukankah itu bentuk pereduksian spiritual yang halus tapi nyata?
Beberapa oknum da'i dalam kajian yang seperti ini, juga tak jarang menyampaikan dalil berupa hadits maupun ayat, namun dalil-dalil itu dipotong dan disesuaikan dengan selera, mungkin tujuannya agar tetap terdengar menyentuh dan relatable. Padahal agama tak selamanya harus sesuai dengan selera kita.
Agama adalah peringatan, muhasabah, dan ketegasan. Bila dalam agama yang dibahas hanyalah pujian terhadap rasa, maka sedikit demi sedikit kita akan terjebak dalam sensasi spiritual yang kosong dari gerak transformatif. Cinta tanpa kedalaman ilmu dan iman hanya akan menjadi ilusi yang dimuliakan.
Keresahan ini pernah disentuh oleh seorang sosiolog muslim kontemporer, Ali Syari'ati, dalam gagasannya tentang agama yang kehilangan daya transformasi ketika hanya dijadikan pelarian emosional dan melupakan tanggung jawab intelektual maupun sosial. Dakwah agama yang selalu dijadikan pelarian emosi berisiko melahirkan umat yang mudah tersentuh, tetapi sulit untuk bertumbuh.
Penyempitan wawasan semacam ini tentu bukanlah hal yang sepele dan tidak bisa kita pandang sebelah mata. Bila kita biarkan begitu saja, maka kedepannya hal ini akan melahirkan generasi yang dangkal secara pengetahuan tapi percaya dirinya begitu tinggi.
Generasi yang merasa dirinya lebih religius karena sering hadir ke forum kajian, padahal tema yang dikaji hanyalah satu potongan kecil dari kompleksitas agama itu sendiri. Generasi yang fasih menyebut kalimat "aku mencintaimu karena Allah", tetapi tidak fasih melafalkan doa-doa wudhu.
Generasi yang bisa menangis saat mendengarkan kisah cinta Nabi, tetapi kebingungan saat ditanya rukun-rukun sholat. Generasi yang bisa berbicara panjang lebar tentang hubugan ideal tapi kesulitan memahami persoalan ibadah yang paling mendasar. Beberapa hal yang manis belum tentu menyehatkan. Sama halnya dengan beberapa hal yang menyentuh hati belum tentu mendidik akal.
Mungkin sudah waktunya dakwah kembali ke koridornya yang semula, memperluas cakrawala dengan menyentuh persoalan yang lebih mendesak. Mengarahkan umat pada revolusi keimanan, pemurnian niat dalam mengkaji agama, serta pengamalan ilmu. Al-Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ayyuhal Walad memberikan kita pengingat:
"ilmu tanpa amal Adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan."
Namun untuk mengembalikan image dakwah secara utuh, kita tidak bisa hanya dengan menyalahkan trend. Karena trend tidak terbentuk dengan sendirinya, melainkan ia dibentuk oleh kebutuhan, didorong oleh keresahan, dan kekosongan tertentu dalam lingkungan masyarakat. Ketika masyarakat sudah mulai nyaman dengan bentuk kemasan kajian agama yang menggugah selera asmara, bisa jadi selama ini kajian yang tentang fiqih ataupun tauhid disampaikan terlalu kaku bahkan jauh dari kata nyaman.
Ketika perasaan lebih diutamakan daripada pemikiran, mungkin kita belum cukup untuk menawarkan kedalaman intelektual yang membumi. Tentu koreksi ini tidak hanya ditujukan untuk para da'i yang mengisi materi percintaan saja, tapi bagi semua elemen yang ikut serta dalam penyampaian pesan agama tanpa menjadikannya hidup dan relevan.
Di tengah pergeseran orientasi dakwah ini, muncul tantangan yang besar bagi para penyebar ilmu agama: agar bagaimana forum keagamaan bisa kembali menjadi pemikat tanpa harus bergantung pada hasrat dan rasa semata? Bagaimana menyuguhkan dalamnya fiqih, indahnya tauhid, kaya dan luasnya sejarah keislaman dalam bahasa yang lebih mudah diterima.
Tentu, ini bukan suatu perkara yang mudah, tapi masih sangat mungkin. Sebab agama tidak pernah tandus dari pesona. Ia memiliki narasi-narasi yang kuat tentang keteguhan, keadilan, bahkan nasionalisme yang perlahan tersisihkan dari benak masyarakat.
Kondisi masyarakat hari ini, khususnya anak muda, sangat haus akan makna. Namun seringkali kehausan mereka dipuaskan dengan hal-hal yang instan. Mereka ingin merasa terkoneksi, ditemani, didengarkan. Maka dari itu, dakwah tidak harus menghilangkan pendekatan emosional, tetapi menyeimbangkannya dengan narasi-narasi yang membangkitkan semangat spiritual dan intelektual.
Sebab cinta dalam islam sebenarnya bersifat lebih umum, bukan sekadar tentang jodoh saja. Tapi tentang mencintai proses, mencintai ilmu yang rumit dan berat, mencintai muhasabah, mencintai umat yang tertindas, dan masih banyak lagi.
Mungkin kita perlu bayangkan kembali bagaimana wajah dakwah yang tidak bergantung pada tema yang mendayu. Wajah yang lebih menunjukkan sisi cinta akan wawasan keilmuan, cinta akan sosial, cinta akan kebenaran, cinta akan keadilan, dan cinta yang mendidik umat. Dan jika mimbar-mimbar dakwah kembali menyentuh tema yang seperti ini, maka cinta akan selalu bertengger pada tempat yang agung. Bukan cinta yang sebatas jadi topik viral dan menjual.
Di titik itulah cinta tak lagi menjadi ilusi yang dimuliakan, tapi menjadi penerang yang mengarahkan umat pada nilai-nilai luhur dalam agama.
,* Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo, asal Lombok Tengah
Baca juga: UMMAT teguhkan teologi Al-Ma'un melalui Kemah Dakwah ORTOM
Baca juga: Aktivis Jatim mendukung KH Mas Abdurrahman jadi pahlawan nasional
Baca juga: UMMat berikan beasiswa untuk mahasiswa penghafal 30 juz Al Quran
COPYRIGHT © ANTARA 2026